Tuesday, October 15, 2013

FAKTOR-FAKTOR RESIKO TERJADINYA DIARE CAIR PADA SEMUA GOLONGAN UMUR.





Disusun untuk memenuhi daftar usulan penetapan angka kredit

BAB I
 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
 
 Penyakit diare sampai saat ini masih tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Diperkirakan kejadian diare berkisar antara 200 – 400 per 1000 penduduk per tahun, 60%-80% diantaranya terjadi pada anak balita. Insiden tertinggi dijumpai pada anak berusia di bawah 2 tahun (Lubis, 1991).
Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 1995, penyakit diare menempati urutan kedua di Indonesia setelah ISPA, dengan angka kejadian sebesar 4,66 per 1000 penduduk (Dep Kes RI, 1997). Angka kesakitan diare semua golongan umur pada tahun 1997 sebesar 20,27 per seribu penduduk    dengan angka kematian 0,008 % (Profil kesehatan Indonesia, 1998).
Menurut WHO tidak kurang  dari 1 milyar episode diare terjadi tiap tahun di seluruh dunia, 25-35 juta diantaranya terjadi di Indonesia. Di Indonesia, tiap anak mengalami diare 2-8 kali setiap tahunnya dengan rata-rata 3,3 kali (Zein, 2001).
Di negara berkembang, diperkirakan kematian anak-anak di bawah 5 tahun akibat diare mencapi 4,6 juta setiap tahunnya. Pada populasi ini mortalitas karena diare pada bayi antara 50 sampai 80 per seribu penduduk (Bukitwetan  dkk, 2001).
Survei Kesehatan Nasional 1992 menunjukkan bahwa kematian bayi dan anak umur 1-4 tahun masing-masing meliputi 23,0% dan 8 %. Sebagaian penyebab kematian adalah infeksi dan parasit. Diare merupakan penyebab kematian utama; 11,4% pada bayi dan 23% pada anak balita (Hidayat, 1998).         
Kemajuan global untuk menurunkan angka kematian karena diare mencapai hasil yang bermakna, terutama sejak diperkenalkannya pengobatan cairan dan elektrolit, namun angka morbiditas diare masih saja tinggi dan masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di berbagai negara. Keadaan ini nyata di negara-negara dengan kondisi sanitasi dan kebersihan lingkungan yang buruk, penyediaan air bersih yang belum memadai, kemiskinan dan taraf pendidikan yang kurang (Bukit wetan  dkk, 2001).
Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis pada lingkungan, dimana dua faktor yang dominan berpengaruh adalah sarana air bersih dan pembuangan tinja hal inilah yang saling berinteraksi bersama perilaku manusia yang dapat menimbulkan diare (Purwanto, 2001).


B. Rumusan Masalah
           Berdasarkan uraian tersebut di atas maka masalah penulisan dirumuskan sebagai berikut : apakah  pengetahuan tentang diare yang kurang, kebiasaan tidak merebus air minum hingga mendidih, kebiasaan tidak mencuci tangan dengan air dan sabun setiap selesai buang air besar dan mau makan, kebiasaan membuang kotoran di sembarang tempat, tidak mempunyai jamban yang memenuhi syarat sanitasi, kualitas bakteriologis air minum yang tidak memenuhi syarat akan  meningkatkan resiko terjadinya diare cair pada semua golongan umur ?

C. Tujuan Penulisan
Mengetahui faktor-faktor resiko terjadinya diare cair pada semua golongan umur  dan karakteristik kasus.

E. Manfaat penulisan
       a. Manfaat bagi masyarakat : dapat memberikan informasi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi (faktor resiko) terjadinya diare cair yang diharapkan  dapat digunakan sebagai masukan dalam hal pencegahan terjadinya kasus diare cair oleh masyarakat.    
b. Manfaat bagi tenaga kesehatan : dapat memberikan informasi  tentang faktor-faktor resiko terjadinya diare cair.

BAB II
 TINJAUAN PUSTAKA

A. Telaah Pustaka
1. Penyakit Diare
          a. Definisi Dan Pengertian Penyakit Diare
Diare adalah penyakit yang ditandai dengan perubahan bentuk dan konsistensi tinja melembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi berak lebih dari biasanya, lazimnya tiga kali atau lebih dalam sehari (Depkes RI, 1996). Menurut Ismail (1999), diare hanyalah gejala berbagai penyakit yang ditandai oleh bertambah seringnya defikasi serta bertambah encernya tinja yang dikeluarkan. Diare adalah keadaan defikasi yang tidak normal hingga mencapai 4 kali atau lebih dalam sehari disertai perubahan konsistensi tinja menjadi encer dengan/ tanpa mengandung darah dan atau lendir (Gandahusada, 1989). Menurut Zein (2001), diare adalah sebagai pengeluaran tinja yang tidak normal dan cair, yang dapat diklasifikasikan menjadi diare akut ialah diare yang berlangsung kurang dari dua minggu, diare persisten (diare klinik) ialah diare yang berlangsung lebih dari 2 minggu dan disentri adalah diare yang disertai darah atau lendir. Diare adalah pengeluaran tinja yang konsistensi dan frekuensinya lain dari biasanya menjadi lebih cair dan lebih sering, atau pengeluaran tinja yang konsistensinya cair dan frekuensi lebih dari 3 x /hari (Sudarmo dkk, 2001).
                    Departemen Kesehatan RI (2000), mengklasifikasikan diare menjadi empat kelompok : (1) diare akut, yaitu diare yang  berlangsung kurang dari 14 hari, (2) diare persisten, yaitu diare akut yang berlanjut sampai 14 hari atau lebih, (3) diare dengan penyakit penyerta (baik diare akut atau persisten yang disertai penyakit lain), (4) diare berdarah (disentri).

        b. Etiologi Dan Diagnosis Penyakit Diare
 Menurut Zein (2001), faktor penyebab diare adalah peradangan usus oleh agent penyebab seperti bakteri, virus, parasit, keracunan makanan atau minuman, kekurangan gizi, imunodefisiensi, faktor musim dan geografis daerah dan faktor-faktor yang lain seperti kurangnya fasilitas sanitasi dan hygiene, pemberian makanan pendamping susu ibu (ASI) yang tidak sesuai. Purwanto (2001), mengelompokkan penyebab diare menjadi 6 kelompok besar yaitu; infeksi, malabsorbasi, alergi, keracunan, immunno defisiensi dan sebab-sebab lain.
                            Menurut  Ramja (2000), golongan protozoa yang telah diketahui sebagai penyebab diare adalah Balantidium coli, Cryptosporidium, Entamoeba histolytica, Giardia lambia, Isospora belli dan Sarcocytis suihomonis. Cryptosporidium merupakan penyebab diare yang akhir-akhir ini banyak dipublikasikan karena merupakan penyebab pada diare pada penderita difisiensi imun, terutama pada penderita AIDS. Entamoeba hystolytica sering menyebabkan desentri ameba, dan Giardia lambia merupakan penyebab utama diare  karena parasit di negara maju.
                    Menurut Bukitwetan (2001), berbagai jenis mikroorganisme diantaranya kuman-kuman Campylobacter, Shigella spp dan Salmonella spp merupakan penyebab penting diare selain  Vibrio cholerae.
   Hasil penelitian Sunarto dkk di Klaten Jawa Tengah (1985), dari 146 anak menderita diare bahwa lamanya waktu balita menderita diare per episode sebesar 1,8 hari sampai dengan 4 hari.
         Menurut Rusli (2001), untuk kepentingan pelayanan sehari-hari diagnosis penyakit diare melalui diagnosis klinis maupun pemeriksaan laboratorik. Menurut Raharjo (1990), di negara-negara berkembang hanya 20% etiologi penyakit dapat ditentukan, namun dengan teknologi baru telah dapat ditemukan 80% penyebab diare akut. 




         c. Epidemiologi Dan Pencegahan Penyakit Diare
1.     Epidemiologi Penyakit diare
         Menurut Sudarmo dkk (2001), berdasarkan SKRT 1986 menunjukkan angka kesakitan diare untuk seluruh golongan umur 120-360 per 1000 penduduk dan untuk balita 1-2 x episode diare setiap tahunnya atau 60% dari semua kesakitan diare. Angka kematiannya dapat mencapai 5 per 1000 balita atau 135.000 kematian tiap tahun yang berarti tiap 4 menit 1 balita meninggal karena diare. Menurut Bukitwetan (2001), Diperkirakan kematian anak-anak di bawah 5 tahun akibat diare mencapai 4,6 juta setiap tahunnya.
Hasil Survey Kesehatan Nasional (1992), kematian bayi dan anak umur 1-4 tahun masing-masing meliputi 23,0% dan 8%. Sebagai penyebab kematian adalah penyakit infeksi dan parasit, dimana diare merupakan penyebab kematian utama; 11,4% pada bayi dan 23,0% pada anak.
Menurut Sutoto (1996), angka kesakitan diare untuk semua golongan umur adalah berkisar antara 120-360 per 1000 penduduk dan untuk balita menderita satu atau dua kali episode diare setiap tahunnya atau 60% dari semua kesakitan adalah diare. Proporsi penyebab kematian karena diare pada bayi sebesar 15,5%,   dan pada  balita sebesar 19,1%.
2.     Pencegahan Penyakit Diare
Penularan penyakit diare terjadi secara fecal oral route dan penderitanya banyak yang berusia 5 tahun. Oleh karena itu tindakan ibu terhadap penanggulangan diare pada balita, terutama mengenai hygiene dan sanitasi rumah tangga sangat penting dalam usaha memotong, menghentikan, menurunkan penderita diare pada balita (Zein, 2001).
Badan Kesejahteraan Anak Sedunia atau Unicef (1993), menyatakan bahwa suatu keadaan lingkungan yang mengancam kesehatan tidak hanya polusi air dari limbah kimia, tetapi juga pencemaran organisme kotoran manusia. Yang terbesar masalah lingkungan adalah kurangnya air bersih yang dapat melindungi manusia dari penyakit diare, cacingan, kolera dan tifus.
       Menurut Sunoto (1990), 7 cara intervensi yang cukup potensial, efektif dan dapat dilaksanakan di negara berkembang untuk menurunkan angka kejadian diare yaitu :
1.     Peningkatan penggunaan ASI selama 6 bulan pertama dapat menurunkan :
a.      Morbiditas diare sebesar 8-20% untuk bayi.
b.      Morbiditas diare sebesar 1-4 % untuk balita.
c.       Morbiditas diare sebesar 8-9 % untuk bayi dan balita.

2.     Imunisasi rotavirus pada bayi 0-2 tahun menurunkan morbiditas diare  sebesar   24% dan morbiditas diare bayi dan balita 7,7%.
3.     Imunisasi kolera secara oral akan menurunkan morbiditas diare pada bayi sebesar 0,1% dan Morbiditas diare sebesar 1,7% pada balita.
4.     Imunisasi campak menurunkan morbiditas diare sebesar 1,8% dan mortalitas diare bayi dan balita sebesar 1,3% (0,6-3,8%).
5.     Peningkatan penggunaan air bersih.
6.     Peningkatan higiene perorangan.
7.     Peningkatan sanitasi lingkungan, ketiga upaya ini dapat menurunkan morbiditas diare sebanyak 35-50%.

Jika ketujuh cara intervensi tersebut dilaksanakan dengan baik dan serentak,  berarti akan dapat menurunkan morbiditas diare 90 %. 
             Penelitian di Surabaya, Jawa Timur (Subijanto dkk, 2001) menyimpulkan tindakan ibu yang dilakukan dalam menghadapi anaknya yang sedang menderita diare yang sesuai dengan tatalaksana diare yang benar adalah sebagai berikut; 57,4% sangat baik, 37,1% baik, 5,5% kurang baik


d. Patogenesis dan Patologi Penyakit  Diare
                   Menurut Ramja (2000),  berdasarkan perjalanan penyakitnya diare yang disebabkan infeksi parasit dibagi menjadi diare akut dan kronis. Diare akut terjadi mendadak dan berlangsung hanya beberapa hari, antara lain terjadi pada amebiasis, giardiasis dan balantidiasis. Diare kronis terjadi mendadak dan berlangsung lebih dari 3 minggu. Diare kronik dapat terjadi pada amebiasis dan giardiasis yang merupakan kelanjutan dari diare akut. Berdasarkan mekanisme patogenesisnya, diare karena infeksi usus parasitik dikelompokkan menjadi tipe eksudatif, sekretorik dan osmotik. Tipe eksudatif antara lain terjadi pada disentri ameba. Pada tipe ini terjadi inflamasi, ulserasi dan infiltrasi seluler mukosa usus sebagai akibat invasi parasit ke dalam mukosa usus yang merangsang reaksi imun hospes. Kelainan ini mengakibatkan bocornya serum protein darah ke dalam lumen usus. Tipe sekretorik antara lain terjadi pada disentri ameba. Diare terjadi karena rangsangan mukosa usus oleh toksin yang dibentuk parasit hingga mengakibatkan usus mensekresikan cairan dalam jumlah yang berlebihan. Tipe osmotik dijumpai pada infeksi giardiasis, pada tipe ini infeksi parasit mengakibatkan atropi vili mukosa usus yang yang berakibat terjadinya defisiensi laktosa sekunder untuk kemudian menimbulkan diare osmotik.
                Infeksi patogen enterik pada umumnya melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi dan paparan terhadap penyebab penyakit diare dapat terjadi melalui kebiasan mengkonsumsi makanan dari penjaja makanan yang mempunyai higiene lingkungan yang kurang baik.

e. Kebijaksanaan Program Penyakit Diare
              Menurut Purwanto (2001), kebijaksanaan tehnis program penyakit diare dititik beratkan pada intervensi untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan dengan melaksanakan tatalaksana diare, pencegahan penyakit yang efektif serta penanggulangan kejadian luar biasa. Menurut Sutoto dkk (1996), tujuan program penanggulangan penyakit diare dalam Repelita adalah: (1) Menurunkan angka kematian bayi/balita yang disebabkan diare sebesar 25%; (2) menurunkan angka kesakitan diare sebesar 25% sehingga episode diare pada balita menurun dari 2,1 menjadi 1,6 kali per tahun. Dengan strategi (kebijaksanaan tehnis) melalui upaya penatalaksanaan kasus diare yang tepat dan efektif dan upaya pencegahan penyakit diare.

f. Faktor Resiko Penyakit Diare
                    Penelitian  Irianto dkk (1994) di Jakarta, menyimpulkan bahwa sumber air utama  akan meningkatkan resiko (OR)  sebesar 1,2 kali terhadap terjadinya diare pada anak balita dengan probabilitas (p<0,05), jenis kakus akan meningkatkan resiko (OR) sebesar 1,76 kali terhadap terjadinya diare pada anak balita dengan probabilitas (p<0,05), jarak sumur ke rembesan tinja akan meningkatkan resiko (OR) sebesar 1,35 kali terhadap terjadinya diare pada anak balita dengan probabilitas (p<0,05), bahan utama untuk lantai tidak akan meningkatkan resiko (OR) sebesar 1.01 dengan probabilitas (p>0,05).
     Beberapa faktor resiko yang mempengaruhi balita mendapatkan diare antara lain : sumber air minum 2,21 kali, status ekonomi rendah 1,55 kali, tidak punya jamban 1,54 kali, pendidikan orang tua 1,46 kali, tempat tinggal 1,23 kali dan  status gizi 1,7 kali dibandingkan dengan kelompok umur lainnya (Dep Kes RI, 1997).
 Penelitian di Indonesia (Agustina dkk, 1997)  ditemukan adanya hubungan status gizi, umur anak, pendidikan ibu, umur ibu, penyediaan air bersih, type jamban dan kepadatan rumah terhadap terjadinya penyakit diare. Penelitian di Jakarta (Agustina dkk, 1991) ditemukan adanya hubungan antara umur anak, pendidikan ibu, pembuangan tinja dan type jamban terhadap terjadinya diare. Penelitian di Malang , Jawa Timur (Loeki dkk, 1994) menyimpulkan bahwa pada anak dengan status gizi kurang/buruk akan  lebih mudah terkena infeksi protozoa usus patogen dibandingkan dengan penderita status gizi baik. Penelitian di Aceh, (Zein, 2000) menyimpulkan bahwa umur, pendidikan, dan jenis pekerjaan ibu sangat menentukan besarnya pengetahuan yang diperoleh ibu tentang penyakit diare. Hasil penelitian  Inggarfitri dkk di malang, Jawa Timur (1994), menyimpulkan bahwa penderita status gizi kurang/ buruk akan lebih mudah terkena infeksi protozoa usus patogen dibandingkan denganMenurur Zein (2000), resiko terjadinya diare lebih besar pada keluarga yang tidak mempunyai fasilitas jamban keluarga. Penyediaan fasilitas air bersih sedekat mungkin dengan pemakai dapat menurunkan resiko diare. Menurut Sudarmo dkk (2001), masih tingginya kematian dan kesakitan diare karena beberapa faktor antara lain kesehatan lingkungan yang belum memadai, keadaan gizi, kependudukan, pendidikan, sosial ekonomi dan perilaku kesehatan di masyarakat secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi penyakit diare. 

B. Landasan Teori


Dep Kes RI (2000), penularan diare  secara fecal oral, kontak dari orang ke orang atau kontak dengan alat rumah tangga. Infeksi menyebar melalui makanan dan air yang terkontaminasi dan biasanya terjadi pada daerah dengan higiene dan sanitasi perorangan yang buruk.
Menurut  Zein (2001), penularan penyakit diare terjadi secara fecal oral route dan penderita banyak yang berusia 5 tahun. Oleh karena itu tindakan ibu terhadap penanggulangan diare pada balita, terutama mengenai hygiene dan sanitasi rumah tangga sangat penting dalam usaha memotong, menghentikan, menurunkan penderita diare pada balita. Pengetahuan, sikap dan tindakan mengenai hygiene dan sanitasi rumah tangga merupakan faktor utama dalam mengatasi diare pada anak balita.Terjadinya diare lebih besar pada keluarga yang tidak mempunyai fasilitas jamban keluarga dan penyediaan fasilitas air bersih.
Dep Kes RI (1997), beberapa faktor resiko yang mempengaruhi balita mendapatkan diare antara lain; sumber air minum, status ekonomi rendah, tidak punya jamban, pendidikan orang tua, status gizi. Bentuk pemberdayaan masyarakat dalam mencegah diare adalah; pemakaian air bersih untuk keperluan sehari-hari, minum air yang sudah direbus, buang air besar pada jamban termasuk membuang kotoran balitanya, memperhatikan kebersihan dalam penyiapan makanan, cuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar.
           Menurut Bukitwetan  (2001),  kejadian diare berhubungan dengan kondisi sanitasi dan kebersihan lingkungan yang buruk, penyediaan air bersih yang belum memadahi, kemiskinan dan taraf pendidikan yang kurang.
            Menurut Purwanto (2001),  penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis pada lingkungan, dimana dua faktor dominan yang berpengaruh adalah sarana air bersih dan pembuangan tinja, hal inilah yang saling berinteraksi bersama perilaku manusia yang dapat menimbulkan diare.
            Menurut Lubis dkk (1997), ditemukan adanya hubungan status gizi, umur anak, pendidikan ibu, pembuangan tinja dan tipe jamban terhadap terjadinya diare.
Menurut Badan Kesejahteraan Anak Sedunia/Unicef (1991), Masalah lingkungan yang terbesar adalah kurangnya air bersih yang dapat melindungi manusia dari penyakit diare, cacingan, kolera dan tifus.
           Menurut Bukitwetan  (2001),  kejadian diare berhubungan dengan kondisi sanitasi dan kebersihan lingkungan yang buruk, penyediaan air bersih yang belum memadahi, kemiskinan dan taraf pendidikan yang kurang.
            Menurut Purwanto (2001),  penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis pada lingkungan, dimana dua faktor dominan yang berpengaruh adalah sarana air bersih dan pembuangan tinja, hal inilah yang saling berinteraksi bersama perilaku manusia yang dapat menimbulkan diare.
 Menurut Sunoto, (1990), peningkatan penggunaan sarana air bersih (SAB), hygiene perorangan dan peningkatan sanitasi lingkungan dapat menurunkan morbiditas diare 35-50%.
Menurut  Pradono (1999), prevalensi diare pada balita sedikit lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan dan berdasarkan pendidikan ibu prevalensi diare berbanding terbalik dengan pendidikan ibu, makin tinggi tingkat pendidikan ibu makin rendah prevalensi diare pada balita.      
               Menurut Irianto (1994), sumber air utama yang tidak memenuhi syarat sanitasi, jenis kasus yang tanpa tangki septik, jarak sumur dengan tempat rembesan tinja akan meningkatkan resiko terjadinya diare pada balita.

C. Definisi Operasional
1.      Pengetahuan tentang diare adalah pengetahuan penderita tentang diare cair yang digali dengan memberikan 10 pertanyaan yang berhubungan dengan diare. Apabila kasus berusia balita atau anak-anak pertanyaan diberikan kepada orang tuanya, dan apabila kasus dewasa pertanyaan diberikan langsung kepada kasus.
a.    Dikatagorikan mempunyai pengetahuan yang kurang tentang diare apabila dari 10 pertanyaan yang diberikan hanya dijawab dengan benar sebanyak 6 buah pertanyaan atau kurang.
b.    Dikatagorikan mempunyai pengetahuan yang cukup apabila dari 10 pertanyaan yang diberikan dapat dijawab dengan benar lebih dari 6 buah pertanyaan.
2. Kebiasaan merebus air hingga mendidih adalah kebiasaan dalam keluarga merebus air yang akan diminum  hingga mendidih.
a.     Dikatagorikan mempunyai kebiasaan merebus air hingga mendidih apabila dalam keluarga selalu merebus air yang akan diminum hingga mendidih.
b.     Dikatagorikan tidak mempunyai kebiasaan merebus air hingga mendidih apabila dalam keluarga tidak selalu merebus air yang akan diminum hingga mendidih.
3. Kebiasaan mencuci tangan dengan air dan sabun adalah   
     kebiasaan penderita (ibu balita) yang selalu mencuci tangan dengan air dan sabun  setelah buang air besar dan sebelum makan.  
a.     Dikatagorikan mempunyai kebiasaan mencuci tangan dengan air
dan sabun apabila setelah buang air besar dan sebelum makan selalu mencuci tangan dengan air dan sabun.    
b.     Dikatagorikan tidak mempunyai kebiasaan mencuci tangan  dengan air dan sabun apabila setelah buang air besar dan  sebelum makan tidak selalu mencuci tangan dengan air dan sabun.
4. Membuang tinja di sembarang tempat adalah kebiasaan keluarga termasuk kasus diare cair  yang  dalam membuang tinja tidak pada jamban yang dilengkapi dengan tangki septik atau  di tempat lain misalnya sungai, danau, lobang tanah.
a.       Dikatagorikan tidak membuang tinja di sembarang tempat apabila kasus/ subyek penelitian  selalu membuang tinjanya di jamban yang dilengkapi  dengan tangki septik.
b.       Dikatagorikan membuang tinja di sembarang tempat apabila kasus/subyek penelitian tidak selalu membuang tinjanya pada jamban yang dilengkapi dengan tangki septik.
5. Kepemilikan jamban adalah kepemilikan jamban dalam keluarga yang memenuhi syarat sanitasi .
a.       Dikatagorikan memiliki jamban yang memenuhi syarat sanitasi apabila dalam keluarga memiliki jamban pribadi  yang dilengkapi dengan tangki septik dan jarak rembesan tinja dengan sumber air minum > dari 10 m. 
b.       Dikatagorikan tidak memiliki jamban yang memenuhi syarat sanitasi apabila dalam keluarga tidak memiliki jamban pribadi atau memiliki jamban pribadi tetapi tidak dilengkapi dengan tangki septik atau dilengkapi dengan tangki septik namun jarak rembesan tinja dengan sumber air minum < 10m.
6.  Kualitas bakteriologis air minum adalah kualitas bakteriologis air minum yang diperiksa secara laboratoris dengan melihat jumlah coli tinja  dalam sumber air minum.
a.     Dikatagorikan sumber air minum memenuhi syarat bakteriologis apabila berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium jumlah coli tinja dalam air masih memenuhi syarat maksimal yang diperbolehkan menurut syarat bakteriologis air minum.
b.     Dikatagorikan sumber air minum tidak memenuhi syarat bakteriologis apabila berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium jumlah coli tinja melebihi syarat maksimal yang diperbolehkan menurut syarat bakteriologis air minum.
7. Umur adalah umur penderita dalam bulan atau tahun
8. Jenis kelamin adalah jenis kelamin penderita (laki-laki/ perempuan).























BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
     pengetahuan tentang diare yang kurang, kebiasaan tidak merebus air minum hingga mendidih, kebiasaan tidak mencuci tangan dengan air dan sabun setiap selesai buang air besar dan mau makan, kebiasaan membuang kotoran di sembarang tempat, tidak mempunyai jamban yang memenuhi syarat sanitasi, kualitas bakteriologis air minum yang tidak memenuhi syarat akan  meningkatkan resiko terjadinya diare cair pada semua golongan umur.

 B. Saran
a.      Agar dalam membuat resapan pembuangan tinja diupayakan jarak dengan saran air minum lebih dari 10 meter, apabila tidak memungkinkan konstruksi bangunan sumber air minum dan resapan tinja hendaknya memenuhi syarat konstruksi bangunan fisik sarana air bersih maupun tempat pembuangan tinja.
b.      Agar mengupayakan dalam setiap rumah tangga memiliki fasilitas pembuangan tinja milik sendiri.
c.       Agar tetap berupaya untuk meningkatkan pengetahuan tentang penyakit diare dan upaya-upaya pencegahannya melalui penyuluhan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan maupun media yang lain.
d.      Agar mengupayakan dalam setiap rumah tangga memiliki sumber air minum milik sendiri.   


















DAFTAR  KEPUSTAKAAN

Abramson, J.H. , 1997, Metode Survei Kedokteran Komunitas pengantar studi epidemiologi dan evaluatif, (terjemahan), Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Agustuna, L. , Widodo, Tjitra, E. , Irianto, J. , 1997, Risk Factors Influencing Diarrhoeae Diseases of Infants and Clildren Under Five Years of Age in Indonesia, Sanitas, Vol  III No 2, 113-116.

Agustina, L. , Djaya, S. , 1997,  Faktor-faktor yang mempengaruhi diare berdarah dan diare berlendir (SDKI), Sanitas, Vol III No 2, 120-124.

BPS, Sleman, 2000, Indikator Kesejahteraan Rakyat Dan Standar Indikator Kesra Kabupaten Sleman, BPS Sleman.

Badan Lit Bang Kes, 1992,  Abstrak Penelitian Kesehatan, Lit Bang Kes Dep Kes, Jakarta.

Bonang , 1978, Mikrobiologi, FK Atma Jaya, Jakarta.
 
Bukitwetan, P., Suryawidjaya, J., Salim, O., Aidiefit, M., Lesmana, M.  2001, Diare Bakterial : Etiologi Dan Pola Kepekaan Anti Biotika Di Dua Pusat Kesehatan Masyarakat Di Jakarta, Journal Kedokteran Tri Sakti, Vol 20 No 3. 57-65.

Dep Kes, R.I. , 1996, Petunjuk Pelaksanan Sistim Kewaspadaan Dini ( SKD) Dan Penanggulangan KLB Diare, Dirjen PPM & PL Jakarta.

Dep Kes, R. I. , 1997. Strategi Komunikasi Program Pemberantasan Penyakit Diare, Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat, Jakarta.

Dep Kes, R.I. , 1998, Profil Kesehatan Indonesia , Pusat Data Kesehatan, Jakarta.

Dep Kes, R.I. , 2000, Tatalaksana kasus Diare Bermasalah, Dirjen PPM & PL, Jakarta.

Dep Kes, R.I., 1996,  Laporan Survei Pengetahuan, Praktek Petugas Puskesmas Dan Pengetahuan Ibu Rumah Tangga Serta Akses Oralit Di Masyarakat , Dirjen PPM & PLP, Jakarta.

Din Kes, Kab Sleman, 1998, Profil Kesehatan Kabupaten Sleman, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Din Kes, Kab Sleman, 1999, Profil Kesehatan Kabupaten Sleman, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Din Kes, Kab Sleman, 2000, Profil Kesehatan Kabupaten Sleman, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Din Kes, Kab Sleman. , 2001, Profil Kesehatan Kabupaten Sleman, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Enggarfitri, L. , Baskoro, A. , Santoso, N. , 1996, Protozoa Usus Patogen Yang Ditemukan Pada Anak Diare Dengan Berbagai Status Gizi, Majalah Kedokteran Unibrow, Vol XII, No 3, 14-20.

Hidayat, A. , 1988. Pengaruh Pemberian Zeng Terhadap Diare Memanjang Pada Anak Balita, Majalah Kedokteran Universitas Trisakti, Vol 17 No 2, 71-78.

Irianti, S. , Zalbawi, S. , Supraptini, 1999/2000, Penelitian Dalam Rangka Penerapan Sistem Pembuangan Tinja Dan Sampah Tepat Guna Desa Pantai Di Kabupaten Rembang Dan Kabupaten Lamongan, Buletin Kesehatan, No 27 (3 dan 4), 346-363.    

Irianto, J., Soesanto, S., Supartini, Inswiasri, Irianti., S., Anwar, A., 1994, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Diare Pada Anak Balita, Buletin Penelitian Kesehatan , Th 1996, No 24, 77-96

Ismail, R. , 1999, Membawa Ilmu Untuk Mereka Yang Membutuhkan Suatu Refleksi Berdasarkan Keterlibatan Dalam Kegiatan Penaggulangan Diare, Majalah Kedokteran Sriwijaya, Th 31, No 1, 1-9.

Kelkar, S., Purohit, S., Boralkar, A., Verma, S., 1996, Prevalence Of Rotavirus Diarrhea Among Out-Patients And Hospitalized Patients: A Comparison, Southeas Asian Journal Trop Med Public Health, Th 2001, Vol 32, No 3, 494-499 

Lemeshow , S, dkk, 1997, Besar Sampel Dalam Penelitian Kesehatan (Terjemahan),Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 1997.

Lubis, I. , Pasaribu, S. , Lubis, M. , Lukman, H. , Lubis, C. , 1991,  Risiko Terjadinya Diare Identifikasi Faktor Pada Bayi, Jurnal Kedokteran Dan Farmasi, No 2, Tahun 17, 106-109.     

Makmur, T, 2001, Faktor yang berhubungan dengan pengetahuan ibu dalam penanggulangan dini diare pada balita di Kecamatan Baiturrahman tahun 2000, Jurnal Kedokteran Syiah Kuala, Vol 1 No:1, 11-16.

Marto Sudarmo, dkk, 2001, Tindakan ibu terhadap anaknya yang menderita gastointeritis akuta/diare akut, Bulettin Ilmu Kesehatan Anak FK Unair, Tahun XXX, No 2, 73-91.

Murti, B. 1977, Prinsip Dan Metode Riset Epidemiologi, Gadjah Mada University Press Yogyakarta.

Purwanto, E.H,  2001, Tinjauan sekilas kebijaksanaan program pemberantasan diare (P2 Diare), Majalah Penyakit Inspeksi Indonesia, Tahun 1, No 1,30-31.

Pradono, J., Ratna, L., 1999, Prevalensi Dan Perawatan Diare Pada Balita SDKI 1991,1994 dan 1997, Buletin penelitian Kesehatan. 26(4) 1998/1999, 145-152.

Ramya, M. , 2000, Protozoa Parasit Penyebab Diare, Majalah Kedokteran Sriwijaya, Th 32, No 2, 19-22. 

Soenarto, S.Y, dkk, 1985, Dysentery in children under five years of age; a longitudinal prospective study in primary healt care in Indonesia, Gadjah Mada University, Yogyakarta Indonesia.

Soesanto, S. , 2000, Tangki Septik Dan Masalahnya, Media Lit Bang Kesehatan, Vol X No 1, 4-7.

Sudarmo, S., Suparto, P., Saharso, D., Ontoseno, T., Tindakan Ibu Terhadap Anaknya Yang Menderita Gastroenteritis Akuta/Diare Akut, Buletin Ilmu Kesehatan Anak, Tahun XXX, No 2 April 2000,73-91










2 comments:

  1. Titanium Magnetic | iTanium Arts
    Use this titanium pan free Spinning Magnetic Razor Blade to strike titanium hammers more efficiently fallout 76 black titanium and efficiently, improving your craftsmanship while titanium necklace making your craft. Use titanium bolt it for your

    ReplyDelete