Tuesday, October 15, 2013

HEMOROID Disusun untuk memenuhi daftar usulan penetapan angka kredit


HEMOROID

Disusun untuk memenuhi daftar usulan penetapan angka kredit

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Hemorrhoid merupakan suatu bentuk kejadian yang sering dijumpai dimasyarakat,  diperlukan suatu pendekatan tersendiri dikarenakan sesungguhnya hemorrhoid merupakan keadaan fisiologis yang dapat menimbulkan kekhawatiran dan gejala meresahkan bagi penderitanya. Haemmorhoid atau piles, jawa : wasir, ambeien,  merupakan suatu bentuk kelainan pada daerah anorektum yang ditandai dengan adanya pelebaran mukosa dan jaringan vasa (vena dari plexus haemroidalis superior, medius, dan inferior) yang menonjol.                                Frekuensi kejadian hemmorrhoid  10 juta orang di Amerika Serikat mempunyai keluhan hemorroid, dengan angka kejadiannya semakin meningkat sekitar 4 %/tahun.3 dan sepertiga dari penderita tersebut yang memerlukan tindakan operasi medis, selebihnya masih melakukan pengobatan konvensional. Rentang kejadian pada usia yang bervariatif, dari usia muda sampai tua, tetapi yang banyak mengeluh dan mengakibatkan gangguan yang nyata kebanyakan pada usia rentang 45-65. Diduga di Indonesia angka kejadiannya lebih tinggi daripada yang terjadi di Amerika,  tetapi belum ada penelitian akurat yang meneliti hal ini.                                                                                      Walaupun hemmorrhoid merupakan hal yang ‘biasa’ terjadi dimasyarakat, tetapi angka kejadiannya cenderung meningkat, seiring dengan perubahan pola hidup masyarakat. Sesorang sering mengeluh memiliki ‘ambeien’dengan analoginya sendiri sebelum dilakukan pemeriksaan oleh tenaga ahli, hal ini merupakan akibat terlalu familiarnya haemorrhoid dimasyarakat. Seseorang dengan keluhan sering keluar darah sewaktu BAB dan ada yang menonjol setelah defekasi dicurigai merupakan gejala haemmorrhoid, dan oleh karena itu perlu suatu pendekatan dan tata cara menangani yang tepat sehingga hal tersebut dapat tertangani.                                                                                          
B. Tujuan Penulisan                                                                                                              Adapun tujuan penulisan refraat ini adalah untuk mengetahui definisi, etiologi, patofisiologi, gejala dan tanda, pemeriksaan, serta terapi, komplikasi dan prognosis dari haemorhoid. Sehingga tujuan dari penulisan refraat ini semoga dapat menjadi tambahan pengetahuan mengenai hemorrhoid





.











BAB II.  PEMBAHASAN

A. Anatomi Dan Fisiologi Anorektum
Rektum dan kanalis analis adalah bagian-bagian akhir usus besar.3 Rektum mulai pada tempat dimana kolon sigmoideum tidak mempunyai mesenterum lagi, yakni  didepan potongan sakrum yang ketiga. Kanalis analis berasal dari dari proktoderm yang merupakan invaginasi entoderm. Karena perbedaan asal anus dan rektum ini maka perdarahan dan persarafan, serta penyalirann vena dan limfenya berbeda juga, demikian epitel yang melapisinya berbeda juga.2 Rektum dilapis oleh mukosa glandular usus sedangkan kanalis analis oleh anoderm yang merupakan lanjutan epitel berlapis gepeng kulit luar. Daerah batas rektum dan kanalis analis ditandai dengan perubahan jenis epitel. Kanalis analis dan kulit sekitar kaya akan persyarafan autonom dan peka terhadap nyeri, sedangkan mukosa rektum mempunyai persarafan autonom dan tidak peka terhadap nyeri.2,3  Saluran anal selalu tertutup, kecuali selama defekasi. Sesuai dengan keadaan itu, kanalis analis dikelilingi seluruhnya oleh dua sfingter: eksternal merupakan sensor yang disadari sedangkan ineterna (tidak disadari), yang hanya berupa penebalan ujung bawah lapis lingkar otot usus. M. Sfingter ani eksternus merupakan otot sadar, bagian subkutan ramping dan melingkari lubang anus, bagian profundus mengelilingi kanalis analis yang disuplai oleh banyak cabang pembuluh-pembuluh darah dan saraf dari A/N rektalis inferior/(hemoroidalis ) Kanalis analis berukuran kurang lebih 3 cm. Sumbunya mengarah ke arah ventrokranial yaitu kearah umbilikus dan membentuk sudut yang nyata ke dorsal dengan rektum dalam keadaan istirahat. Pada saat defekasi sudut ini menjadi lebih besar.  Batas atas kanalis disebut garis anorektum, garis mukokutan, linea pektinea atau linea dentata. Didaerah ini terdapat kripta anus dan muara kelenjar anus dan kolumna rektum. Infeksi yang terjadi disini dapat membentuk fistel. Lekukan antar sfingter sirkuler dapat diraba sewaktu pemeriksaan colok dubur yang menunjukkan batas sfingter  interni dan eksterna.

Pembuluh darah:
Arteri: Seluruhnya ada lima pembuluh arteri yang mendarahi rektum dan kanalis analis, yakni arteri rektalis (hemorhoidalis) superior, 2 media, dan 2 inferior.  Arteri Rektalis superior adalah lanjutan arteri mesenterika inferior, pembuluh arteri yang lain arteri sakral mediana, arteri glutea inferior, arteri pudenda interna yang akan mengirimkan cabang-cabang kecil menuju bagian bawah rektum.              Vena: Vena rektalis atau hemorhoidalis superior, media dan inferior menyertai pembuluh arterinya dan mengembalikan darah dari bagian-bagian rektum dan kanalis analis yang sesuai. Vena rektalis superior menuju vena mesenterika inferior. Vena hemmorhoidalis superior akan menuju vena sigmoidalis yang akan beranastomosis ke vena mesenterika inferior dan beujung ke vena porta. Dan vena-vena rektalis media dan inferior termasuk sistem kaval, pembuluh darah ini berkatup. Vena rektalis superior mempunyai pleksus yang luas pada mukosa dan submukosa, dan menerima cabang-cabang dari jaringan sekeliling rektum. Vena ini tidaklah berkatup sehingga tekanan rongga perut menentukan tekanan didalamnya.  Vena hemorhoidalis inferior akan mengalir ke vena pudenda interna dan merupakan cabang dari vena iliaka interna dan cabang dari vena cava inferior. Kelainan pada vena porta dan vena kava inferior dapat berimplikasi timbulnya hemoroid selain dari pembesaran v. hemoroidalis sendiri.             Darah vena diatas garis anorektum mengalir melalui sistem porta, sedangkan yang melalui yang berasal dari anus dialirkan melalui sistem kava melalui cabang v.iliaka. Distribusi ini menjadi penting dalam upaya memahami cara penyebaran keganasan dan infeksi serta terbentuknya hemorroid.           Persarafan; persarafan rektum terdiri atas sistem simpatik dan sistem parasimpatik. Pada persarafan dibawah anorektum dibawah linea dentata (persarafan cutaneus) merupakan cabang dari saraf pudendus yang bersifat somato sensorik.
B. Definisi dan klasifikasi
Haemorrhoids are enlarge congested patches of the mucosa and submukosa at the level of the anorectal junction.1 haemorrhiods are Varicosities of the hemorrhoidal venous plexus.4 Hemorrhoids are not varicosities; they are clusters of vascular tissue (eg, arterioles, venules, arteriolar-venular connections), smooth muscle (eg, Treitz muscle), and connective tissue lined by the normal epithelium of the anal canal5  Hemmorhoid merupakan bentuk pelebaran vena didalam vena didalam plexus hemorrhoidalis yang menimbulkan keluhan dan gejala.2  Hemmorrhoid tidak sekedar pelebaran vasa tetapi diikuti penambahan jaringan sekitar vasa, sehingga bisa keluar dari anus.4,5,6                                Hemorrhoid dapat dibedakan menjadi 2 (berdasarkan posisi anatomi, yang dipisahkan oleh garis (linea dentata).)                                                          1.Haemorrhoid interna; yaitu jika haemorrhoid tersebut terjadi diatas linea pektinea (linea dentata) yang  dilapisi oleh epitel columnar. Hemorrhoid ini berasal dari plexus hemorrhoidalis superior dan medius, terletak diatas garis mukokutan dan ditutupi oleh mukosa, plexus vena hemorroidalis interna terletak pada rongga submukosa diatas valvula morgagni. Hemorrhoid interna tidak disokong saraf somatik sensorik dan tidak menimbulkan nyeri.                    2.Hemorrhoid Ekterna, posisinya dibawah linea dentata, yang dilapisi oleh epitel squamus. Berasal dari plexus haemorroidalis inferior, terletak disebelah distal garis mukokutan didalam jaringan dibawah epitel. Pada daerah tersebut dialiri oleh saraf cutaneus menyarafi daerah perianal. Dan lebih sering menimbulkan nyeri dibanding pada haemorroid interna.
C. Etiologi
Etiologi  haemorrhoid  dikaitkan dengan adanya dilatasi dari plexus vena hemoroid serta keadaan rekatnya atau ketatnya daerah spinghter ani interna.  Beberapa keadaan seperti Inflammatory bowel disease dan keadaan pada daerah vena hemoroid banyak dikaitkan dengan timbulnya hemorrhoid, walaupun tidak biasa ditemukan diklinik  Keadaan inflamation bowel disease pasti terdapat haemorrhoid, colitis ulcerative dan crohn disease juga sering dikaitkan dengan  haemorroid, kehamilan juga bisa menyebabkan berbagai kelainan anorektal. 5 Aliran balik venosa, seperti pada hipertensi portal akibat serosis hepatis. Dan juga diduga pengaruh dari pola makan yang rendah serat merupakan salah satu etiologi yang disetujui banyak ahli haemorrhoid.                                                                
Faktor resiko :4,5,6                                                                            •Kehamilan (meningkatkan statis vena di daerah pelvis), Colon malignancy, liver disease, hipertensi portal, constipation, diare kronik, konsumsi banyak cola dan kopi (menyebabkan feses keras), pekerjaan yang memerlukan banyak duduk dalam waktu yang lama, pengenduran kondisi otot karena usia tua,  pembedahan rektum, episiotomy, anal intercourse, obesitas, posisi BAB duduk yang terlalu lama (karena meningkatkan tekana vena dan pelebaran vena), riwayat keturunan juga diduga mempunyai peran dalam menyokong kejadian hemorrhoid (menyebabkan kelemahan dinding pembuluh darah atau kelemahan otot sfingter)
D. Patofisiologi
Terjadinya hemorrhoid biasanya tergantung  faktor pencetusnya. Terjadinya haemorrhoid terkait erat dengan keadaan dan kesehatan individu masing-masing. 1. Adanya gangguan, hambatan aliran balik vena  merupakan patogenesis utama terjadinya hemorrhoid. Hal ini dipertegas juga bahwa kebanyakan-vena didaerah mesenterium tidak mempunyai katup, sehingga mudah mengalami peningkatan tekanan dan gangguan).                                                                                         2. Diet rendah serat  berimplikasi terhadap kadar dan kondisi feses yang keras akan mengakibat peningkatan pengejanan pada waktu defekasi. Peningkatan tekanan tersebut memicu pembesaran vena hemorrhoid, karena dimungkinkan akan menekan mukaosa dan akan menghambat proses aliran balik vena. Kehamilan dan keadaan tekanan tinggi abnormal lainnya pada spingter internal dapat menyebabkan penyebab hemorrhoid. Penurunan tekanan balik vena juga terjadi karena aktifitas fisik seperti sering jongkok dan duduk yang terlalu lama pada waktu defekasi.                                                                                                   3. Usia, proses penuaan juga berperan menyebabkan lemahnya tahanan vaskular, dan muskularis (spingter ani) pada daerah anorektum.                                        4. Kelainan-kelainan pada sistem perdarahan vena porta, biasanya hipertensi portal ( sirosis hepatis) yang akan mengakibatkan  varices anorektal. Fibrosis jaringan hepar akan meningkatkan resistensi aliran vena ke hepar sehingga terjadi hipertensi portal atau adanya peningkatan tekana hidrostatik pada sistem porta, maka akan terbentuk kolateral antara lain ke esofagus dan plexus hemorroidalis.  
E. Gejala dan Tanda
           Hal tersering dikeluhkan pasien sewaktu berobat ke dokter, dan menjadikan kekhasan tersendiri dibandingkan dengan gejala pada kelainan anorektal lainnya yaitu mengeluh terdapat darah yang menetes setelah defekasi dan terasa ada benjolan bila diraba setelah buang air besar. Gejala haemorrhoid dapat dibedakan sesuai dengan etiologinya, apakah berasal dari haemorrhoid interna atau eksterna. Pada haemorrhoid interna jarang menimbulkan keluhan nyeri, biasanya pasien datang dengan keluhan adanya perdarahan sewaktu defefkasi atau setelah defekasi, dan adanya massa yang turun. Prolapsus pada hemorehoid interna dapat menyebabkan nyeri perianal akibat dari spasm kompleks spingter. Dan ketika terjadi strangulasi meupun inkarserata yang meradang atau nekrosis dari massa yang prolaps tersebut bisa menimbulkan nyeri. Pada haemorrhoid eksternal lebih sering menimbulkan nyeri , hal ini merupakan akibat dari adanya thrombus yang menekan kulit (cutaneus pain)
Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan inspeksi dapat dilaporkan :
1.     Pada haemorrhoid eksterna mudah terlihat terutama bila sudah mengandung thrombus. Biasanya thrombus tersebut sering berkaitan dengan aktifitas fisik anorektal yang berat seperti sering mengejan, kompliaksi dari diare maupun konstipasi.
2.     Pada haemorrhoid interna yang prolapsus dapat terlihat sebagai benjolan yang tertutup mukosa. Untuk mengetes ada tidaknya prolaps pasien bias disuruh mengejan. Pada prolaps haemorrhoid dapat secara tegas dibedakan dengan prolaps rectum maupun kelainan anorektum (eg, fissure, abscess, fistula, pruritus ani, condylomata, viral and bacterial skin infections). lainnya. Sering dijumpai dermatitis (pruritus ani) yang diakibatkan karena mucus yang mengenai kulit perianal.
Derajat haemorrhoid (haemorrhoid interna):
Derajat 1. Dimana terjadi pelebaran vasa vena (varises) tetapi belum ada benjolan/ prolaps saat defekasi, walaupun defekasi dilakukan dengan sekuat tenaga. Derajat satu kadang tidaklah menimbulkan keluhan walaupun dapat ditandai dengan adanya perdarahan yang keluar sesuai defekasi yang khas (menetes) atau melalui sigmoidoskopi.                                                       Derajait 2. Derajat dua ditandai dengan adanya perdarahan dan prolaps jaringan diluar anus saat mengejan selama defekasi berlangsung serta dapat kembali spontan.                                                                                Derajat 3. Derajat tiga tanda dan gejalanya mirip dengan yang terdapat pada derajat dua, hanya saja prolapsus tidaklah dapat spontan melainkan harus didorong (manipulasi/reposisi manual).                                                   Derajat 4. Derajat empat ditandai dengan tidak dapatnya direduksi/ inkerserasi. Biasanya benjolan /prolapsus dapat terjepit diluar, dapat mengalami iritasi, inflamasi, udema dan ulserasi, sehingga baru menimbulkan keluhan nyeri.
Perdarahan terjadi pada grade 1 sampai grade 4, perdarahan berhubungan dengan proses mengejan, darah keluar saat pasien mengejan dan sering berhenti bila mengejan berhenti, darah yang keluar merupakan darah segar, tidak bercampur feses, kadang menetes diakhir  atau ditengah defekasi, kadang mengalir deras tergantung derajat keparahan trauma yang ditimbulkan. Sering menyebabkan anemia, jika terjadi perdarahan yang berulang-berulang. Kadang juga terjadi keadaan dimana terjadi trombosis melingkar pada haemorrhoid interna dan haemorrhoid eksterna secara bersamaan. Keadaan ini menyebabkan nyeri yang hebat dan dapat berlanjut menyebabkan nekrosis mukosa dan kulit yang menutupunya.                                                                                                                Pada pemeriksaan colok dubur jarang didapatkan tanda pasti pada pasien yang baru mengeluh keluhan haemorrhoid, hal ini dikarenakan mukosa dan vena yang didalam akan mudah mengempes dan tidak mempunyai tekanan yang cukup tinggi dan tidak nyeri, tetapi bila thrombus atau unfeksi teraba suatu penebalan dari thrombus atau mukosa yang menebal. Colok dubur diperlukan untuk menyingkirkan dengan kemungkinan karsinoma rectum, maupun prolaps ani. Untuk membedakan dengan prolaps ani pemeriksaan dengan memasukkan jari diantara benjolan yang keluar dengan kulit, pada hemorroid, jari dapat dimasukkan tapi kemudian segera berhenti tidak dapat didorong kembali, sedangkan pada prolapas ani jari dapat masuk jauh, tidak terasa ada ujung yang buntu.                                                                                                                               Pemeriksaan penunjang seperti anoskop dapat membantu menegakkan diagnosis haemorrhoid interna yang belum prolaps, pada pemeriksaan anoskopi dimasukkan dan diputar sehingga  didapati haemorrhoid interna sebagai struktur vascular yang menonjol kedalam lumen, apabila penderita diminta untuk mengedan sedikit maka ukuran haemorrhoid akan membesar dan penonjolan akan nyata. Terdapat tiga titik keluarnya vena yang kemudian berkelok-kelok dan seringkali semua tampak bersatu, sehingga dinamakan haemorrhoid sirkular, ketiga tempat tersebut dinamakan primary piles/sites of morgan, yang berada pada jam 3, 7, dan 11. Protosigmoidoskopi bisa dilakukan pemeriksaan untuk memastikan bahwa keluhan bukan disebabkan oleh proses radang atau keganasan ditingkat yang lebih tinggi.
F. Diagnosis Banding
Hemmorroid mempunyai berbagai macam differential diagnosis, hal ini sesuai dengan gejala dan tanda yang biasanya terjadi pada penyakit lainnya, seperti:
-        Perdarahan rectum yang merupakan manifestasi utama hemorroid interna juga terjadi pada karsinoma kolorektum, penyakit divertikel, polip, colitis ulserosa.1, 4, 5
-        Prolaps mukosa haemorrhoid dapat dibedakan dengan prolaps rectum (procidentia: seluruh dinding procidentia prolaps), condyloma akuminata, abses bakteri, fistula ani dan fissure (adanya lipatan kulit sentinel pada garis tengah dorsal (umbel kulit).1,2,4,5,6

G. Terapi
Tujuan dari terapi adalah mengurangi gejala yang dikeluhkan pasien, selain untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh penderita haemorrhoid, seperti anemia yang terus menerus dan komplikasi lainnya
Non Medikamentosa:1, 2, 4,6,8
- Anjuran makan makanan tinggi serat dan banyak konsumsi air,                                          mengurangi konsumsi makanan yang keras dan ’alot’
- Anjuran mengurangi frekuensi duduk dan jongkok, mengurangi aktifitas mengejan yang terlalu lama dan kuat
-  Menggunakan sabun dan air sehabis buang air besar
-   Merendam memakai air hangat, garam epsom hipertonik
Medikamentosa1, 2, 4, 5, 7, 8
-        Pemberian obat flebidinomik dengan maksud agar dinding vena menjadi elastis. Lebih kuat, sehingga tidak mudah berdarah
-        Jika mengeluh pruritus ani dapat diberikan hydrokortison
-        Obat salep atau spray analgetik juga dapat digunakan untuk mengurangi rasa nyeri
-        Bisa diberikan obat-obatan supposituria laxantia, walaupun hasilnya masih diragukan, eg: ardium; terapi tersebut diatas hanya diberikan pada pasien dengan derajat ringan sampai sedang, 1-3
-        Skleroterapi; yaitu penyuntikan larutan kimia yang merangsang, misalnya 5% fenol dalam minyak nabati, sodium, morrhuate, kinie uretan. Penyuntikan dilakukan di submukosa dalam jaringan yang longgar dibawah hemorrhoid interna dengan tujuan untuk menimbulkan peradangan steril yang kemudian menjadi fibrotik, menjepit vena sehingga akan mengakibatkan vena tidak terisi darah lagi, agar tidak nyeri suntikan harus tepat pada mucocutaneus junction (1-2 ml disuntukan ke kuadran simptomatik dengan alat hemmorrhoid panjang dan bantuan anoskopi) dengan bahaya seperti striktur ani, infeksi dan reaksi hipersensifitas. Pengobatan ini dan anjuran makanan berserat adalah terapi terbaik untuk hemorrhoid derajat 1-2
-        Ligasi dengan cincin karet; tonjolan diterik dan pangkalnya diikat dengan cincin karet (rubber band ligation) karena diharapkan akan iskemik,  terjadi nekrosis dan terlepas, beberapa akan mengalami fibrosis dalam beberapa hari, komplikasi nyeri hebat terutama ligasi pada mucocutaneus junction yang kaya reseptor sensorik dan perdarahan saat polip lepas atau nekrosis (7-10 hari) setelah ligasi
-        Crysurgery; tonjolan hemmorhoid dibekukan dengan CO2 atau NO2 sehingga terjadi nekrosis dan akhirnya fibrosis; jarang dilakukan dan biasanya cocok untuk terapi paliatif pada Ca rektum inoperable
-        IRC (Infra red couter); tonjolan dikauter dengan infra red, terjadi nekrosis dan akhirnya fibrosis, terapi diulang tiap seminggu sekali
-        Operasi dilakukan dengan indikasi: gejala kronik derajat 2, perdarahan kronik dan anemia yang tidak berhasil dengan terapi sederhana, hemmorrhoid derajat 4 dengan nyeri akut dan trombosis serta gangren. Operasi dilakukan dengan prinsip hemmorhoidektomi dengan dilakukan eksisi hanya dilakukan pada jaringan yang benar-benar berlebih, eksis sehemat mungkin dilakukan anoderm dan kulit normal tidak mengganggu M. Spingter ani.  Terapi ini dipilh untuk penderita hemmorhoid derajat 3 dan 4. Ada beberapa cara tehnik operasi: 2, 7,
                                                    i.     Metode langen beck (eksis, jahitan primer radier) sayatan  ditempat keluar varises harus sejajar dengan sumbu memanjang rektum, keuntungannnya berapa banyak varisespun dapat diangkat, bila sayatan ini dijahit tidak menimbulkan stenosis. Biasanya untuk jenis tonjolan soliter.
                                                  ii.     Metode Whitehead (eksis, jahitan primer longitudinal) sayatan dilakukan sirkuler, sedikit jauh dari varises diangkat, mukosa di kembalikan ketempatnya sehingga hasil operasi lebih rapi, tetapi bahaya striktur lebih besar, sehingga sebelum menjadi sempit sekali harus dilatasi dengan bougie
                                                 iii.     Metode Morgan-Milligan : semua primari piles diangkat sehingga tidak menimbulkan residif. Biasanya untuk hemorrhoid sirkuler atau berat.
H. Komplikasi
Pada hemorrhoid interna sering menimbulkan komplikasi berupa syok hipovolemi (jika perdarahan tidak kunjung berhenti, biasanya yang bersifat akut) dan anemia (biasanya perdarahannya tersembunyi, berulang dan berlangsung kronik). Prolaps hemorrhoid interna dapat menjadi ireponibel, bisa menyebabkan inkarserata yang bisa menimbulkan infeksi dan sepsis
I. Prognosis
Prognosis haemorrhoid tergantung pada derajat keparahan. Pada terapi dan edukasi yang tepat menimbulkan harapan peningkatan kualitas hidup yang baik.

















BAB III
KESIMPULAN


                 Hemorrhoid atau piles merupakan suatu keadaan yang sering ditemui dimasyarakat. Hemorrhoid merupakan kelainan pada daerah anorektum yang ditandai dengan adanya pelebaran mukosa dan jaringan vasa (vena dari plexus haemroidalis superior, medius, dan inferior) yang menonjol.  Hemmorhoid merupakan bentuk pelebaran vena tetapi diikuti penambahan jaringan sekitar vasa, sehingga bisa keluar dari anus.didalam vena didalam plexus hemorrhoidalis yang menimbulkan keluhan dan gejala.  Terdapat dua jenis hemorrhoid yaitu hemorrhoid interna dan hemorrhoid eksterna, perbedaan tersebut dikarenakan asal muasal plexus yang berbeda dan sifat dari gejala serta tanda yang ditimbulkan. Hemorrhoid interna berasal dari plexus haemorrhoid superior dan medius, sedangkan eksterna berasal dari plexus haemorrhoidales inferior.
                    Ada beberapa hal penyebab dan faktor resiko terjadinya hemorrhoid, dari kehamilan (meningkatkan statis vena di daerah pelvis), Colon malignancy, liver disease, hipertensi portal, constipation, diare kronik, konsumsi banyak cola dan kopi (menyebabkan feses keras), pekerjaan yang memerlukan banyak duduk dalam waktu yang lama, pengenduran kondisi otot karena usia tua,  pembedahan rektum, episiotomy, anal intercourse, obesitas, posisi BAB duduk yang terlalu lama (karena meningkatkan tekana vena dan pelebaran vena), riwayat keturunan juga diduga mempunyai peran dalam menyokong kejadian hemorrhoid menyebabkan kelemahan dinding pembuluh darah atau kelemahan otot sfingter .       Hemorrhoid interior sering tidak menimbulkan gejala, biasanya pada awalnya ditandai dengan adanya tetesan darah segar yang keluar setelah defekasi dan adanya massa yang keluar setelah defekasi serta jarang yang datang dengan keluhan nyeri, tetapi berbeda dengan hemorrhoid eksterna yang biasanya datang dengan keluhan nyeri pada daerah anus. Diperlukan anamnesa dan pemeriksaan yang teliti dan lengkap untuk mendiagnosis hemorrhoid, kalau diperlukan pemeriksaan penunjang seperti anoskop, dan protosigmoidoskopi dapat membantu menegakkan diagnosis haemorrhoid interna yang belum prolaps, dan membedakan dengan kemungkinan-kemungkinan lainnya. Terapi penatalaksanaan hemorrhoid juga bermacam-macam dari tindakan edukatif, tindakan konservatif sampai tindakan khusus untuk dilakukan operasi hemorrhoidektomi jika telah menyebabkan gangguan dan komplikasi.
                    Dari yang telah diuraikan diatas, sekiranya akan mencukupi untuk membantu menambah pengetahuan dan pendekatan yang paripurna dalam  menegakkan diagnosis dan upaya terapi dalam menghadapi pasien-pasien dengan hemorrhoid




































DAFTAR PUSTAKA


Anonim., Hemorrhoidectomy.,  YourSurgery_Com®-Hemorrhoidectomy.htm., 2002

Anonim., Procedure for Prolapse and Hemorrhoids (PPH), www.hemorrhoidtreatmentcenter.com., 2003.
                                     
G. Zainea, M.D. George, Pfenninger, M.D. John L., Common Anorectal Conditions: Part I. Symptoms and Complaints., www.aafp.org., 2001

G. Zainea, M.D. George, Pfenninger, M.D. John L., Common Anorectal Conditions: Part II. Lesions., www.aafp.org., 2001
Murra-Saca MD. Julio Alejandro., Modern hemorrhoids treatment with rubber bands., www. murrasaca.com., 2003
Sjamsuhidayat., R., Wim de Jong., Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2., EGC., Jakarta., 2005.

Tuwu., A., Pengantar Metode Penelitian Oleh Consuelo G. Sevilla., et al., UI Press., Jakarta., 2003.












No comments:

Post a Comment