HEMOROID
Disusun untuk memenuhi daftar usulan penetapan angka
kredit
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hemorrhoid merupakan
suatu bentuk kejadian yang sering dijumpai dimasyarakat, diperlukan suatu pendekatan tersendiri
dikarenakan sesungguhnya hemorrhoid merupakan keadaan fisiologis yang dapat
menimbulkan kekhawatiran dan gejala meresahkan bagi penderitanya. Haemmorhoid
atau piles, jawa : wasir, ambeien, merupakan suatu bentuk kelainan pada
daerah anorektum yang ditandai dengan adanya pelebaran mukosa dan jaringan vasa
(vena dari plexus haemroidalis superior, medius, dan inferior) yang menonjol. Frekuensi
kejadian hemmorrhoid 10 juta orang di
Amerika Serikat mempunyai keluhan hemorroid, dengan
angka kejadiannya semakin meningkat sekitar 4 %/tahun.3 dan
sepertiga dari penderita tersebut yang memerlukan tindakan operasi medis,
selebihnya masih melakukan pengobatan konvensional. Rentang kejadian pada usia
yang bervariatif, dari usia muda sampai tua, tetapi yang banyak mengeluh dan
mengakibatkan gangguan yang nyata kebanyakan pada usia rentang 45-65. Diduga di
Indonesia angka kejadiannya lebih tinggi daripada yang terjadi di Amerika, tetapi belum ada penelitian akurat yang
meneliti hal ini. Walaupun hemmorrhoid merupakan hal yang ‘biasa’ terjadi dimasyarakat,
tetapi angka kejadiannya cenderung meningkat, seiring dengan perubahan pola
hidup masyarakat. Sesorang sering mengeluh memiliki ‘ambeien’dengan analoginya
sendiri sebelum dilakukan pemeriksaan oleh tenaga ahli, hal ini merupakan
akibat terlalu familiarnya haemorrhoid dimasyarakat. Seseorang dengan keluhan
sering keluar darah sewaktu BAB dan ada yang menonjol setelah defekasi
dicurigai merupakan gejala haemmorrhoid, dan oleh karena itu perlu suatu
pendekatan dan tata cara menangani yang tepat sehingga hal tersebut dapat
tertangani.
B. Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan
refraat ini adalah untuk mengetahui definisi, etiologi, patofisiologi, gejala
dan tanda, pemeriksaan, serta terapi, komplikasi dan prognosis dari haemorhoid.
Sehingga tujuan dari penulisan refraat ini semoga dapat menjadi tambahan pengetahuan
mengenai hemorrhoid
.
BAB II.
PEMBAHASAN
A. Anatomi Dan Fisiologi Anorektum
Rektum dan kanalis
analis adalah bagian-bagian akhir usus besar.3 Rektum mulai pada
tempat dimana kolon sigmoideum tidak mempunyai mesenterum lagi, yakni didepan potongan sakrum yang ketiga. Kanalis
analis berasal dari dari proktoderm yang merupakan invaginasi entoderm. Karena
perbedaan asal anus dan rektum ini maka perdarahan dan persarafan, serta
penyalirann vena dan limfenya berbeda juga, demikian epitel yang melapisinya
berbeda juga.2 Rektum dilapis oleh mukosa glandular usus sedangkan
kanalis analis oleh anoderm yang merupakan lanjutan epitel berlapis gepeng
kulit luar. Daerah batas rektum dan kanalis analis ditandai dengan perubahan
jenis epitel. Kanalis analis dan kulit sekitar kaya akan persyarafan autonom
dan peka terhadap nyeri, sedangkan mukosa rektum mempunyai persarafan autonom
dan tidak peka terhadap nyeri.2,3 Saluran anal selalu tertutup, kecuali selama
defekasi. Sesuai dengan keadaan itu, kanalis analis dikelilingi seluruhnya oleh
dua sfingter: eksternal merupakan sensor yang disadari sedangkan ineterna
(tidak disadari), yang hanya berupa penebalan ujung bawah lapis lingkar otot
usus. M. Sfingter ani eksternus merupakan otot sadar, bagian subkutan ramping
dan melingkari lubang anus, bagian profundus mengelilingi kanalis analis yang
disuplai oleh banyak cabang pembuluh-pembuluh darah dan saraf dari A/N rektalis
inferior/(hemoroidalis ) Kanalis analis berukuran kurang lebih 3 cm. Sumbunya
mengarah ke arah ventrokranial yaitu kearah umbilikus dan membentuk sudut yang
nyata ke dorsal dengan rektum dalam keadaan istirahat. Pada saat defekasi sudut
ini menjadi lebih besar. Batas atas
kanalis disebut garis anorektum, garis mukokutan, linea pektinea atau linea
dentata. Didaerah ini terdapat kripta anus dan muara kelenjar anus dan kolumna
rektum. Infeksi yang terjadi disini dapat membentuk fistel. Lekukan antar
sfingter sirkuler dapat diraba sewaktu pemeriksaan colok dubur yang menunjukkan
batas sfingter interni dan eksterna.
Pembuluh darah:
Arteri: Seluruhnya ada
lima pembuluh arteri yang mendarahi rektum dan kanalis analis, yakni arteri
rektalis (hemorhoidalis) superior, 2 media, dan 2 inferior. Arteri Rektalis superior adalah lanjutan
arteri mesenterika inferior, pembuluh arteri yang lain arteri sakral mediana,
arteri glutea inferior, arteri pudenda interna yang akan mengirimkan
cabang-cabang kecil menuju bagian bawah rektum. Vena: Vena rektalis atau hemorhoidalis superior, media
dan inferior menyertai pembuluh arterinya dan mengembalikan darah dari
bagian-bagian rektum dan kanalis analis yang sesuai. Vena rektalis superior
menuju vena mesenterika inferior. Vena hemmorhoidalis superior akan menuju vena
sigmoidalis yang akan beranastomosis ke vena mesenterika inferior dan beujung
ke vena porta. Dan vena-vena rektalis media dan inferior termasuk sistem kaval,
pembuluh darah ini berkatup. Vena rektalis superior mempunyai pleksus yang luas
pada mukosa dan submukosa, dan menerima cabang-cabang dari jaringan sekeliling
rektum. Vena ini tidaklah berkatup sehingga tekanan rongga perut menentukan
tekanan didalamnya. Vena hemorhoidalis
inferior akan mengalir ke vena pudenda interna dan merupakan cabang dari vena iliaka
interna dan cabang dari vena cava inferior. Kelainan pada vena porta dan vena
kava inferior dapat berimplikasi timbulnya hemoroid selain dari pembesaran v.
hemoroidalis sendiri. Darah vena diatas garis anorektum
mengalir melalui sistem porta, sedangkan yang melalui yang berasal dari anus
dialirkan melalui sistem kava melalui cabang v.iliaka. Distribusi ini menjadi
penting dalam upaya memahami cara penyebaran keganasan dan infeksi serta terbentuknya
hemorroid. Persarafan;
persarafan rektum terdiri atas sistem simpatik dan sistem parasimpatik. Pada
persarafan dibawah anorektum dibawah linea dentata (persarafan cutaneus)
merupakan cabang dari saraf pudendus yang bersifat somato sensorik.
B. Definisi dan klasifikasi
Haemorrhoids are
enlarge congested patches of the mucosa and submukosa at the level of the
anorectal junction.1 haemorrhiods are Varicosities
of the hemorrhoidal venous plexus.4
Hemorrhoids are not varicosities; they are clusters of vascular
tissue (eg, arterioles, venules, arteriolar-venular connections), smooth muscle
(eg, Treitz muscle), and connective tissue lined by the normal epithelium of
the anal canal5 Hemmorhoid merupakan bentuk pelebaran vena
didalam vena didalam plexus hemorrhoidalis yang menimbulkan keluhan dan gejala.2 Hemmorrhoid tidak sekedar pelebaran vasa
tetapi diikuti penambahan jaringan sekitar vasa, sehingga bisa keluar dari
anus.4,5,6 Hemorrhoid dapat dibedakan
menjadi 2 (berdasarkan posisi anatomi, yang dipisahkan oleh garis (linea
dentata).)
1.Haemorrhoid interna; yaitu jika haemorrhoid tersebut terjadi diatas linea
pektinea (linea dentata) yang dilapisi
oleh epitel columnar. Hemorrhoid ini berasal dari plexus hemorrhoidalis
superior dan medius, terletak diatas garis mukokutan dan ditutupi oleh mukosa,
plexus vena hemorroidalis interna terletak pada rongga submukosa diatas valvula
morgagni. Hemorrhoid interna tidak disokong saraf somatik sensorik dan tidak
menimbulkan nyeri. 2.Hemorrhoid Ekterna, posisinya dibawah
linea dentata, yang dilapisi oleh epitel squamus. Berasal dari plexus
haemorroidalis inferior, terletak disebelah distal garis mukokutan didalam
jaringan dibawah epitel. Pada daerah tersebut dialiri oleh saraf cutaneus
menyarafi daerah perianal. Dan lebih sering menimbulkan nyeri dibanding pada
haemorroid interna.
C. Etiologi
Etiologi haemorrhoid dikaitkan dengan adanya dilatasi dari plexus
vena hemoroid serta keadaan rekatnya atau ketatnya daerah spinghter ani interna. Beberapa keadaan seperti Inflammatory bowel
disease dan keadaan pada daerah vena hemoroid banyak dikaitkan dengan timbulnya
hemorrhoid, walaupun tidak biasa ditemukan diklinik Keadaan inflamation bowel disease
pasti terdapat haemorrhoid, colitis ulcerative dan crohn disease
juga sering dikaitkan dengan haemorroid,
kehamilan juga bisa menyebabkan berbagai kelainan anorektal. 5 Aliran
balik venosa, seperti pada hipertensi portal akibat serosis hepatis. Dan juga
diduga pengaruh dari pola makan yang rendah serat merupakan salah satu etiologi
yang disetujui banyak ahli haemorrhoid.
Faktor
resiko :4,5,6 •Kehamilan (meningkatkan statis vena di
daerah pelvis), Colon malignancy, liver disease, hipertensi portal, constipation,
diare kronik, konsumsi banyak cola dan kopi (menyebabkan feses keras), pekerjaan
yang memerlukan banyak duduk dalam waktu yang lama, pengenduran kondisi otot
karena usia tua, pembedahan rektum,
episiotomy, anal intercourse, obesitas, posisi BAB duduk yang terlalu lama
(karena meningkatkan tekana vena dan pelebaran vena), riwayat keturunan juga
diduga mempunyai peran dalam menyokong kejadian hemorrhoid (menyebabkan
kelemahan dinding pembuluh darah atau kelemahan otot sfingter)
D. Patofisiologi
Terjadinya
hemorrhoid biasanya tergantung faktor
pencetusnya. Terjadinya haemorrhoid terkait erat dengan keadaan dan kesehatan
individu masing-masing. 1. Adanya gangguan, hambatan aliran balik vena merupakan patogenesis utama terjadinya
hemorrhoid. Hal ini dipertegas juga bahwa kebanyakan-vena didaerah mesenterium
tidak mempunyai katup, sehingga mudah mengalami peningkatan tekanan dan gangguan).
2. Diet rendah serat berimplikasi terhadap kadar dan kondisi feses
yang keras akan mengakibat peningkatan pengejanan pada waktu defekasi.
Peningkatan tekanan tersebut memicu pembesaran vena hemorrhoid, karena
dimungkinkan akan menekan mukaosa dan akan menghambat proses aliran balik vena.
Kehamilan dan keadaan tekanan tinggi abnormal lainnya pada spingter internal
dapat menyebabkan penyebab hemorrhoid. Penurunan tekanan balik vena juga
terjadi karena aktifitas fisik seperti sering jongkok dan duduk yang terlalu
lama pada waktu defekasi.
3. Usia, proses penuaan juga berperan menyebabkan lemahnya tahanan vaskular,
dan muskularis (spingter ani) pada daerah anorektum. 4. Kelainan-kelainan pada sistem
perdarahan vena porta, biasanya hipertensi portal ( sirosis hepatis) yang akan
mengakibatkan varices anorektal.
Fibrosis jaringan hepar akan meningkatkan resistensi aliran vena ke hepar
sehingga terjadi hipertensi portal atau adanya peningkatan tekana hidrostatik
pada sistem porta, maka akan terbentuk kolateral antara lain ke esofagus dan
plexus hemorroidalis.
E. Gejala
dan Tanda
Hal tersering dikeluhkan pasien
sewaktu berobat ke dokter, dan menjadikan kekhasan tersendiri dibandingkan
dengan gejala pada kelainan anorektal lainnya yaitu mengeluh terdapat darah
yang menetes setelah defekasi dan terasa ada benjolan bila diraba setelah buang
air besar. Gejala haemorrhoid dapat dibedakan sesuai dengan etiologinya, apakah
berasal dari haemorrhoid interna atau eksterna. Pada haemorrhoid interna jarang
menimbulkan keluhan nyeri, biasanya pasien datang dengan keluhan adanya perdarahan
sewaktu defefkasi atau setelah defekasi, dan adanya massa yang turun. Prolapsus
pada hemorehoid interna dapat menyebabkan nyeri perianal akibat dari spasm
kompleks spingter. Dan ketika terjadi strangulasi meupun inkarserata yang
meradang atau nekrosis dari massa yang prolaps tersebut bisa menimbulkan nyeri.
Pada haemorrhoid eksternal lebih sering menimbulkan nyeri , hal ini merupakan
akibat dari adanya thrombus yang menekan kulit (cutaneus pain)
Pemeriksaan
fisik
Pada
pemeriksaan inspeksi dapat dilaporkan :
1.
Pada haemorrhoid eksterna mudah terlihat terutama bila
sudah mengandung thrombus. Biasanya thrombus tersebut sering berkaitan dengan
aktifitas fisik anorektal yang berat seperti sering mengejan, kompliaksi dari
diare maupun konstipasi.
2.
Pada haemorrhoid interna yang prolapsus dapat terlihat
sebagai benjolan yang tertutup mukosa. Untuk mengetes ada tidaknya prolaps
pasien bias disuruh mengejan. Pada prolaps haemorrhoid dapat secara tegas
dibedakan dengan prolaps rectum maupun kelainan anorektum (eg, fissure,
abscess, fistula, pruritus ani, condylomata, viral and bacterial skin infections).
lainnya. Sering dijumpai dermatitis (pruritus ani) yang diakibatkan karena
mucus yang mengenai kulit perianal.
Derajat
haemorrhoid (haemorrhoid interna):
Derajat 1.
Dimana terjadi pelebaran vasa vena (varises) tetapi belum ada benjolan/ prolaps
saat defekasi, walaupun defekasi dilakukan dengan sekuat tenaga. Derajat satu
kadang tidaklah menimbulkan keluhan walaupun dapat ditandai dengan adanya
perdarahan yang keluar sesuai defekasi yang khas (menetes) atau melalui
sigmoidoskopi. Derajait 2. Derajat dua
ditandai dengan adanya perdarahan dan prolaps jaringan diluar anus saat
mengejan selama defekasi berlangsung serta dapat kembali spontan. Derajat 3. Derajat
tiga tanda dan gejalanya mirip dengan yang terdapat pada derajat dua, hanya
saja prolapsus tidaklah dapat spontan melainkan harus didorong
(manipulasi/reposisi manual). Derajat 4. Derajat empat ditandai dengan
tidak dapatnya direduksi/ inkerserasi. Biasanya benjolan /prolapsus dapat
terjepit diluar, dapat mengalami iritasi, inflamasi, udema dan ulserasi,
sehingga baru menimbulkan keluhan nyeri.
Perdarahan
terjadi pada grade 1 sampai grade 4, perdarahan berhubungan dengan proses
mengejan, darah keluar saat pasien mengejan dan sering berhenti bila mengejan
berhenti, darah yang keluar merupakan darah segar, tidak bercampur feses,
kadang menetes diakhir atau ditengah
defekasi, kadang mengalir deras tergantung derajat keparahan trauma yang
ditimbulkan. Sering menyebabkan anemia, jika terjadi perdarahan yang berulang-berulang.
Kadang juga terjadi keadaan dimana terjadi trombosis melingkar pada haemorrhoid
interna dan haemorrhoid eksterna secara bersamaan. Keadaan ini menyebabkan
nyeri yang hebat dan dapat berlanjut menyebabkan nekrosis mukosa dan kulit yang
menutupunya. Pada pemeriksaan colok dubur jarang
didapatkan tanda pasti pada pasien yang baru mengeluh keluhan haemorrhoid, hal
ini dikarenakan mukosa dan vena yang didalam akan mudah mengempes dan tidak
mempunyai tekanan yang cukup tinggi dan tidak nyeri, tetapi bila thrombus atau
unfeksi teraba suatu penebalan dari thrombus atau mukosa yang menebal. Colok
dubur diperlukan untuk menyingkirkan dengan kemungkinan karsinoma rectum,
maupun prolaps ani. Untuk membedakan dengan prolaps ani pemeriksaan dengan
memasukkan jari diantara benjolan yang keluar dengan kulit, pada hemorroid,
jari dapat dimasukkan tapi kemudian segera berhenti tidak dapat didorong
kembali, sedangkan pada prolapas ani jari dapat masuk jauh, tidak terasa ada
ujung yang buntu. Pemeriksaan
penunjang seperti anoskop dapat membantu menegakkan diagnosis haemorrhoid
interna yang belum prolaps, pada pemeriksaan anoskopi dimasukkan dan diputar
sehingga didapati haemorrhoid interna
sebagai struktur vascular yang menonjol kedalam lumen, apabila penderita
diminta untuk mengedan sedikit maka ukuran haemorrhoid akan membesar dan
penonjolan akan nyata. Terdapat tiga titik keluarnya vena yang kemudian
berkelok-kelok dan seringkali semua tampak bersatu, sehingga dinamakan
haemorrhoid sirkular, ketiga tempat tersebut dinamakan primary piles/sites
of morgan, yang berada pada jam 3, 7, dan 11. Protosigmoidoskopi bisa
dilakukan pemeriksaan untuk memastikan bahwa keluhan bukan disebabkan oleh
proses radang atau keganasan ditingkat yang lebih tinggi.
F. Diagnosis
Banding
Hemmorroid
mempunyai berbagai macam differential diagnosis, hal ini sesuai dengan gejala
dan tanda yang biasanya terjadi pada penyakit lainnya, seperti:
-
Perdarahan rectum yang merupakan manifestasi utama
hemorroid interna juga terjadi pada karsinoma kolorektum, penyakit divertikel,
polip, colitis ulserosa.1, 4, 5
-
Prolaps mukosa haemorrhoid dapat dibedakan dengan prolaps
rectum (procidentia: seluruh dinding procidentia prolaps),
condyloma akuminata, abses bakteri, fistula ani dan fissure (adanya lipatan
kulit sentinel pada garis tengah dorsal (umbel kulit).1,2,4,5,6
G. Terapi
Tujuan
dari terapi adalah mengurangi gejala yang dikeluhkan pasien, selain untuk
mengatasi masalah yang dihadapi oleh penderita haemorrhoid, seperti anemia yang
terus menerus dan komplikasi lainnya
Non Medikamentosa:1,
2, 4,6,8
- Anjuran
makan makanan tinggi serat dan banyak konsumsi air, mengurangi
konsumsi makanan yang keras dan ’alot’
- Anjuran
mengurangi frekuensi duduk dan jongkok, mengurangi aktifitas mengejan yang
terlalu lama dan kuat
- Menggunakan
sabun dan air sehabis buang air besar
-
Merendam memakai air hangat, garam epsom hipertonik
Medikamentosa1,
2, 4, 5, 7, 8
-
Pemberian obat flebidinomik dengan maksud agar dinding
vena menjadi elastis. Lebih kuat, sehingga tidak mudah berdarah
-
Jika mengeluh pruritus ani dapat diberikan hydrokortison
-
Obat salep atau spray analgetik juga dapat digunakan
untuk mengurangi rasa nyeri
-
Bisa diberikan obat-obatan supposituria laxantia,
walaupun hasilnya masih diragukan, eg: ardium; terapi tersebut diatas hanya
diberikan pada pasien dengan derajat ringan sampai sedang, 1-3
-
Skleroterapi; yaitu penyuntikan larutan kimia yang
merangsang, misalnya 5% fenol dalam minyak nabati, sodium, morrhuate, kinie
uretan. Penyuntikan dilakukan di submukosa dalam jaringan yang longgar dibawah
hemorrhoid interna dengan tujuan untuk menimbulkan peradangan steril yang
kemudian menjadi fibrotik, menjepit vena sehingga akan mengakibatkan vena tidak
terisi darah lagi, agar tidak nyeri suntikan harus tepat pada mucocutaneus
junction (1-2 ml disuntukan ke kuadran simptomatik dengan alat hemmorrhoid
panjang dan bantuan anoskopi) dengan bahaya seperti striktur ani, infeksi dan
reaksi hipersensifitas. Pengobatan ini dan anjuran makanan berserat adalah
terapi terbaik untuk hemorrhoid derajat 1-2
-
Ligasi dengan cincin karet; tonjolan diterik dan
pangkalnya diikat dengan cincin karet (rubber band ligation) karena
diharapkan akan iskemik, terjadi
nekrosis dan terlepas, beberapa akan mengalami fibrosis dalam beberapa hari,
komplikasi nyeri hebat terutama ligasi pada mucocutaneus junction yang kaya
reseptor sensorik dan perdarahan saat polip lepas atau nekrosis (7-10 hari)
setelah ligasi
-
Crysurgery; tonjolan hemmorhoid dibekukan dengan CO2 atau
NO2 sehingga terjadi nekrosis dan akhirnya fibrosis; jarang dilakukan dan
biasanya cocok untuk terapi paliatif pada Ca rektum inoperable
-
IRC (Infra red couter); tonjolan dikauter dengan infra
red, terjadi nekrosis dan akhirnya fibrosis, terapi diulang tiap seminggu
sekali
-
Operasi dilakukan dengan indikasi: gejala kronik derajat
2, perdarahan kronik dan anemia yang tidak berhasil dengan terapi sederhana,
hemmorrhoid derajat 4 dengan nyeri akut dan trombosis serta gangren. Operasi
dilakukan dengan prinsip hemmorhoidektomi dengan dilakukan eksisi hanya
dilakukan pada jaringan yang benar-benar berlebih, eksis sehemat mungkin
dilakukan anoderm dan kulit normal tidak mengganggu M. Spingter ani. Terapi ini dipilh untuk penderita hemmorhoid
derajat 3 dan 4. Ada beberapa cara tehnik operasi: 2, 7,
i. Metode
langen beck (eksis, jahitan primer radier) sayatan ditempat
keluar varises harus sejajar dengan sumbu memanjang rektum, keuntungannnya
berapa banyak varisespun dapat diangkat, bila sayatan ini dijahit tidak
menimbulkan stenosis. Biasanya
untuk jenis tonjolan soliter.
ii. Metode
Whitehead (eksis, jahitan primer longitudinal) sayatan dilakukan
sirkuler, sedikit jauh dari varises diangkat, mukosa di kembalikan ketempatnya
sehingga hasil operasi lebih rapi, tetapi bahaya striktur lebih besar, sehingga
sebelum menjadi sempit sekali harus dilatasi dengan bougie
iii. Metode
Morgan-Milligan : semua primari piles diangkat sehingga tidak menimbulkan
residif. Biasanya untuk hemorrhoid sirkuler atau berat.
H. Komplikasi
Pada
hemorrhoid interna sering menimbulkan komplikasi berupa syok hipovolemi (jika
perdarahan tidak kunjung berhenti, biasanya yang bersifat akut) dan anemia
(biasanya perdarahannya tersembunyi, berulang dan berlangsung kronik). Prolaps
hemorrhoid interna dapat menjadi ireponibel, bisa menyebabkan inkarserata yang
bisa menimbulkan infeksi dan sepsis
I. Prognosis
Prognosis
haemorrhoid tergantung pada derajat keparahan. Pada terapi dan edukasi yang
tepat menimbulkan harapan peningkatan kualitas hidup yang baik.
BAB III
KESIMPULAN
Hemorrhoid atau piles merupakan suatu
keadaan yang sering ditemui dimasyarakat. Hemorrhoid merupakan kelainan pada daerah anorektum yang ditandai dengan
adanya pelebaran mukosa dan jaringan vasa (vena dari plexus haemroidalis
superior, medius, dan inferior) yang menonjol.
Hemmorhoid merupakan bentuk pelebaran vena tetapi diikuti penambahan
jaringan sekitar vasa, sehingga bisa keluar dari anus.didalam vena didalam
plexus hemorrhoidalis yang menimbulkan keluhan dan gejala. Terdapat dua jenis hemorrhoid yaitu
hemorrhoid interna dan hemorrhoid eksterna, perbedaan tersebut dikarenakan asal
muasal plexus yang berbeda dan sifat dari gejala serta tanda yang ditimbulkan.
Hemorrhoid interna berasal dari plexus haemorrhoid superior dan medius,
sedangkan eksterna berasal dari plexus haemorrhoidales inferior.
Ada beberapa hal penyebab dan faktor resiko terjadinya
hemorrhoid, dari kehamilan
(meningkatkan statis vena di daerah pelvis), Colon malignancy, liver disease,
hipertensi portal, constipation, diare kronik, konsumsi banyak cola dan kopi
(menyebabkan feses keras), pekerjaan yang memerlukan banyak duduk dalam waktu
yang lama, pengenduran kondisi otot karena usia tua, pembedahan rektum, episiotomy, anal
intercourse, obesitas, posisi BAB duduk yang terlalu lama (karena meningkatkan
tekana vena dan pelebaran vena), riwayat keturunan juga diduga mempunyai peran
dalam menyokong kejadian hemorrhoid menyebabkan kelemahan dinding pembuluh
darah atau kelemahan otot sfingter . Hemorrhoid interior sering tidak
menimbulkan gejala, biasanya pada awalnya ditandai dengan adanya tetesan darah
segar yang keluar setelah defekasi dan adanya massa yang keluar setelah
defekasi serta jarang yang datang dengan keluhan nyeri, tetapi berbeda dengan
hemorrhoid eksterna yang biasanya datang dengan keluhan nyeri pada daerah anus.
Diperlukan anamnesa dan pemeriksaan yang teliti dan lengkap untuk mendiagnosis
hemorrhoid, kalau diperlukan pemeriksaan penunjang seperti
anoskop, dan protosigmoidoskopi dapat membantu menegakkan diagnosis haemorrhoid
interna yang belum prolaps, dan membedakan dengan kemungkinan-kemungkinan
lainnya. Terapi penatalaksanaan
hemorrhoid juga bermacam-macam dari tindakan edukatif, tindakan konservatif
sampai tindakan khusus untuk dilakukan operasi hemorrhoidektomi jika telah
menyebabkan gangguan dan komplikasi.
Dari yang telah diuraikan diatas, sekiranya akan
mencukupi untuk membantu menambah pengetahuan dan pendekatan yang paripurna
dalam menegakkan diagnosis dan upaya
terapi dalam menghadapi pasien-pasien dengan hemorrhoid
DAFTAR PUSTAKA
Anonim., Hemorrhoidectomy., YourSurgery_Com®-Hemorrhoidectomy.htm.,
2002
Anonim., Procedure for Prolapse
and Hemorrhoids (PPH), www.hemorrhoidtreatmentcenter.com.,
2003.
G. Zainea, M.D. George, Pfenninger, M.D. John L., Common
Anorectal Conditions: Part I. Symptoms and Complaints., www.aafp.org., 2001
G. Zainea, M.D. George, Pfenninger, M.D. John L., Common
Anorectal Conditions: Part II. Lesions., www.aafp.org.,
2001
Murra-Saca MD. Julio Alejandro.,
Modern hemorrhoids treatment with rubber bands., www. murrasaca.com.,
2003
Sjamsuhidayat.,
R., Wim de Jong., Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2., EGC., Jakarta., 2005.
Tuwu., A., Pengantar Metode Penelitian Oleh Consuelo
G. Sevilla., et al., UI Press., Jakarta., 2003.
No comments:
Post a Comment