Tuesday, October 15, 2013

LUKA BAKAR



Disusun untuk memenuhi daftar usulan penetapan angka kredit

BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Kulit adalah organ tubuh terbesar (dimensi luas). Fungsi utamanya adalah sebagai pelindung (barier mekanik) terhadap pengaruh luar termasuk invasi kuman. Juga berperan dalam pengaturan suhu tubuh, berpengaruh terhadap keseimbangan cairan tubuh, sumber pro-vitamin D, serta fungsi proteksi maupun kenikmatan dari sensibilitasnya. 1
Gambar 1. Penampang kulit.
Luka bakar merupakan cedera yang cukup sering dihadapi para dokter. Berat ringannya suatu luka bakar tergantung pada keadaan jaringan yang terbakar serta intensitas trauma panas. Kulit yang tebal berpigmen banyak dan banyak mempunyai kelenjar sebasea akan lebih tahan terhadap trauma panas dibandingkan dengan kulit yang tipis dan kering. Jaringan dibawahnya akan menerima rambatan panas yang serupa. Kandungan air dalam jaringan dan kaya tidaknya jaringan akan aliran darah merupakan faktor penting.1
Di Amerika Serikat, luka bakar adalah penyebab ketiga kematian akibat kecelakaan setelah kecelakaan kendaraan bermotor dan senjata api. Setiap tahun kira-kira 1,25 juta orang dengan luka bakar datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD). Sebagian besar menderita luka bakar ringan dan mendapat pertolongan pertama di IGD dan sisanya menderita luka bakar yang luas sehingga perlu mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit.1
Gawat darurat dan penatalaksanaan awal luka bakar merupakan bagian terpenting dari perawatan keseluruhan, terutama bila luka bakarnya luas dan kemungkinan melibatkan beberapa pembedahan. Sebelum dilakukan manajemen terhadap luka bakar, pasien harus dievaluasi secara tepat dan lengkap. Evaluasi ini meliputi jalan napas, pertukaran udara dan stabilitas sirkulasi. Selain itu juga harus diketahui mekanisme terjadinya luka bakar, ada tidaknya gangguan inhalasi, uka bakar kornea dan intoksikasi karbonmonoksida.1
Penyebab luka bakar selain terbakar api langsung atau tak langsung, juga pajanan suhu tinggi dari matahari, listrik, maupun bahan kimia. Luka bakar karena api atau akibat tak langsung dari api, misalnya tersiram air panas banyak terjadi pada kecelakaan rumah tangga. 1,2,5
Beratnya luka bakar biasanya dinyatakan dengan derajat yang ditentukan oleh kedalaman luka bakar, luas, dan daerah luka bakar. Umur dan keadaan kesehatan penderita sebelumnya akan sangat mempengaruhi prognosis. 3,8
Akibat luka bakar : nyeri sekali, gagal kardiovaskuler, syok, dapat menyebabkan kematian dalam beberapa jam. Kematian dapat disebabkan oleh karena absorpsi bahan toksik dari jaringan yang mengalami nekrose, oedema pada pangkal tenggorokan, Lower Nephrone Nephrosis, pneumi hipostatik, infeksi pseudomonik, tetanus, tukak lambung, curling ulcer. (Nawawi Hadikusumo, 1997). 4
Penyulit yang timbul dalam luka bakar antara lain gagal ginjal, edema paru, SIRS (Systemic Inflammaory Response Syndrome), infeksi dan sepsis, serta parut hipertrofik dan kontraktur. 4
Prognosis dan penanganan luka bakar terutama tergantung pada dalam dan luasnya permukaan luka bakar dan penanganan sejak awal hingga penyembuhan. Selain itu faktor daerah yang terbakar, usia, dan keadaaan kesehatan penderita juga turut menenukan kecepatan penyembuhan. Luka bakar padaa deaerah perineum, ketiak, leher, dan tangan sulit dalam perawatannya karena mudah mengalami kontraktur. 5
Untuk menyelamatkan jiwa penderita, tindakan yang terpenting adalah mencegah atau mengatasi syok, mencegah dan mengobai infeksi, untuk luka bakar daerah wajah dan leher atau bila terjadi inhalasi asap, perhatikan bahaya edema larings. 7




























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    DEFENISI
Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh kontak langsung atau tidak langsung dengan suhu tinggi seperti api, air panas, listrik, dan radiasi, serta akibat kontak dengan suhu rendah dan zat-zat yang bersifat membakar (asam kuat dan basa kuat) 3,5,6
B.    KLASIFIKASI 1,8,10,12
Luka bakar biasanya dinyatakan dengan derajat yang ditentukan oleh kedalaman luka bakar, luas, dan daerah luka bakar. Umur dan keadaan kesehatan penderita sebelumnya akan sangat mempengaruhi prognosis.
Berdasarkan kedalaman luka bakar, luka bakar dibagi atas :
1.     Luka bakar derajat I (Superficial burn)
Merupakan luka bakar yang paling ringan. Luka bakar hanya terbatas pada lapisan epidermis. Kulit yang terbakar menjadi merah, nyeri, sangat sensitif terhadap sentuhan dan lembab atau membengkak. Jika ditekan, daerah yang terbakar akan memutih, belum terbentuk lepuhan. Luka bakar ini dapat disebabkan karena sinar ulraviolet dan paparan nyala api. Biasanya akan sembuh tanpa jaringan parut dalam waktu 5 – 7 hari dan tidak terjadi jaringan parut.
Gambar 2. Luka bakar dangkal (superfisial). Pada daerah badan dan lengan kanan, luka bakar jenis ini biasanya memucat dengan penekanan.
2.     Luka bakar derajat II (Parsial thicknees burn)
Menyebabkan kerusakan yang lebih dalam. Luka bakar mencapai kedalaman dermis tapi masih ada elemen yang tersisa, seperti sel epitel basal, kelenjar sebasea, kelenjar keringat, dan folikel rambut. Kulit melepuh, dasarnya tampak merah atau keputihan dan terisi oleh cairan kental yang jernih. Jika disentuh warnanya berubah menjadi putih dan terasa lebih nyeri karena adanya iritasi ujung saraf sensorik.
Luka bakar derajat II dibedakan menjadi :
a.      Derajat II dangkal (superficial partial-thickness burn)
Kerusakan mengenai bagian superficial dari dermis. Dapat disebabkan oleh cairan atau uap panas (tumpahan atau percikan), paparan nyala api. Penampakan luar derajat ini adalah gelembung berisi cairan, berkeringat, merah, memucat dengan penekanan.  Terasa nyeri bila terpapar udara dan panas. Penembuhan terjadi dalam waku 7-20 hari. Umumnya tidak terjadi jaringan parut, potensial untuk perubahan pigmen.
Gambar 3. Luka bakar superficial partial thickness. Memucat dengan penekanan, biasanya berkeringat.
b.     Derajat II dalam (deep partial-thickness burn)
Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis. Disebabkan oleh karena cairan atau uap panas (tumpahan), api, minyak panas. Tampak gelembung berisi cairan (rapuh), basah atau kering berminyak, berwarna dari putih sampai merah, tidak memucat dengan penekanan. Nyeri terasa dengan penekanan saja. Penyembuhan terjadi dalam waktu >21 hari. Kulit yang telah membaik potensi untuk mengalami hipertrofi, dan berisiko untuk kontraktur (kekakuan akibat jaringan parut yang berlebih.rsisa.
Gambar.4. Luka bakar deep partial thickness. Permukaan putih, tidak memucat dengan penekanan.
3.     Luka bakar derajat III (Full thicknees burn)
Menyebabkan kerusakan yang paling dalam, kemungkinan sampai subkutis. Dapat disebabkan oleh cairan atau uap panas, api, minyak, bahan kimia, listrik tegangan tinggi. Penampakan luarnya adalah putih berminyak sampai abu-abu dan kehitaman, kering dan tidak elastis, tidak memucat dengan penekanan. Kerusakan sel darah merah pada daerah yang terbakar bisa menyebabkan luka bakar berwarna merah terang. Kadang daerah yang terbakar melepuh dan rambut/bulu di tempat tersebut mudah dicabut dari akarnya. Nyeri terasa hanya dengan penekanan yang kuat. Tidak dapat sembuh (jika luka bakar mengenai >2% dari TBSA) dan beresiko sangat tinggi untuk terjadi kontraktur. Penyembuhan hanya dengan cangkok kulit.
Gambar.4 Luka bakar full thickness. Tidak terasa sakit, gambaran putih atau keabu-abuan.
Luas luka bakar dinyatakan sebagai presentasi terhadap luas permukaan tubuh. Untuk menghitung secara cepat dipakai Rule of  Nine oleh Polaski dan Tennison dari Wallace. Perhitungan cara ini hanya dapat diterapkan pada orang dewasa, karena anak-anak mempunyai proporsi tubuh yang berbeda. Untuk keperluan pencatatan medis, dapat digunakan kartu luka bakar dengan cara Lund and Browder.
Perhitungan luas luka bakar berdasarkan ”Rule of Nine” oleh Polaski dan Tennison dari Wallace :
a.      Kepala dan leher : 9%
b.     Ekstermitas atas : 2 x 9% (kanan dan kiri)
c.      Paha dan betis-kaki : 4 x 9% (kanan dan kiri)
d.     Dada, perut, punggung, dan bokong : 4 x 9%
e.      Perineum dan genital : 1%
Pada keadaan darurat dapat digunakan cara cepat yaitu dengan menggunakan luas telapak tangan penderita. Prinsipnya yaitu luas telapak tangan adalah 1% luas permukaan tubuh.
Perhitungan luas luka bakar menurut Linch-Blocker untuk bayi yaitu :
a.      Kepala : 20%
b.     Tangan, masing-masing 10%
c.      Kaki, masing-masing 10%
d.     Badan : kanan 20%, kiri 20%
Perhitungan luas luka bakar menurut Lund-Browder, yaitu :
AREA

UMUR (TAHUN)
0-1
1-4
5-9
10-14
15
DEWASA
Kepala
19
17
13
11
9
7
Leher
2
2
2
2
2
2
Anterior tubuh
13
13
13
13
13
13
Posterior tubuh
13
13
13
13
13
13
Bokong kanan
2,5
2,5
2,5
2,5
2,5
2,5
Bokong kiri
2,5
2,5
2,5
2,5
2,5
2,5
Genitalia
1
1
1
1
1
1
Lengan atas kanan
4
4
4
4
4
4
Lengan atas kiri
4
4
4
4
4
4
Lengan bawah kanan
3
3
3
3
3
3
Lengan bawah kiri
3
3
3
3
3
3
Telapak tangan kanan
2,5
2,5
2,5
2,5
2,5
2,5
Telapak tangan kiri
2,5
2,5
2,5
2,5
2,5
2,5
Paha kanan
5,5
6,5
8
8,5
9
9,5
Paha kiri
5,5
6,5
8
8,5
9
9,5
Kaki kanan
5
5
5,5
6
6,5
7
Kaki kiri
5
5
5,5
6
6,5
7
Telapak kaki kanan
3,5
3,5
3,5
3,5
3,5
3,5
Telapak kaki kiri
3,5
3,5
3,5
3,5
3,5
3,5
Total
100
100
100
100
100
100

Luka bakar juga dapat juga di klasifikasikan menurut berat atau ringannya luka bakar, yaitu : 7,11

TIPE LUKA BAKAR

Minor / Ringan
Moderate / Sedang
Major / Berat
Kriteria
Derajat I,
Derajat II <10% pada dewasa dan <5% pada pasien muda dan tua*, Derajat III <2% 
Derajat II 10-20% pada dewasa dan 5-10% pada pasien muda dan tua*,
Derajat III 2-5%,
Luka listrik tegangan tinggi,
Tersangka cedera luka bakar saluran napas,
Luka bakar melingkar
Penyakit penyerta yang meningkatkan kemungkinan terkena infeksi (cth. Diabetes)
Derajat II >20% pada dewasa dan >10% pada pasien muda dan tua*,
Derajat III >5%,
Luka listrik tegangan tinggi,
Diketahui luka bakar saluran napas,
Luka bakar yang jelas pada wajah, mata, telinga, genitalia atau persendian,
Luka bakar terkait dengan cedera lain yang berat (patah tulang, trauma berat)
Perawatan
Pasien rawat jalan
Perawatn rumah sakit
Rujuk ke unit spesialis luka bakar
*pasien muda : lebih muda dari 10 tahun; dewasa : 10-50 tahun; tua : >50 tahun



C.    PATOFISIOLOGIS 1,8
Akibat pertama luka bakar adalah syok karena kaget dan kesakitan. Pembuluh kapiler yang terpajan suhu tinggi rusak dan permeabilitas meninggi. Sel darah yang ada di dalamnya ikut rusak sehingga dapat terjadi anemia. Meningkatnya permeabilitas menyebabkan udem dan menimbulkan bula dengan membawa serta elektrolit. Hal ini menyebabkan berkurangnya volume cairan intravaskuler. Kerusakan kulit akibat luka bakar menyebabkan kehilangan cairan tambahan karena penguapan yang berlebihan, cairan masuk ke bula yang terbentuk pada luka bakar derajat II, dan pengeluaran cairan dari keropeng luka bakar derajat III.
Bila luas luka bakar kurang dari 20%, biasanya mekanisme kompensasi tubuh masih bisa mengatasinya tetapi bila di atas 20% akan terjadi syok hipovolemik, nadi kecil dan cepat, tekanan darah menurun dan produksi urine berkurang. Pembekakan terjadi pelan-pelan, maksimal terjadi setelah delapan jam.
Pada kebakaran dalam ruang tertutup atau bila luka terjadi di muka, dapat terjadi kerusakan mukosa jalan napas karena gas, asap, atau uap panas yang terisap. Udem yang terjadi dapat menyebabkan gangguan berupa hambatan jalan napas karena udem laring. Gejala yang timbul adalah sesak napas, takipnea, stridor, suara serak, dan dahak berwarna gelap karena jelaga.
Dapat juga terjadi keracunan gas CO atau gas beracun lain. Karbonmonoksida akan mengika hemoglobin dengan kuat sehingga hemoglobin tak mampu lagi mengikat oksigen. Tanda keracunan ringan adalah lemas, bingung, pusing, mual, dan muntah. Pada keracunan yang berat dapat menyebabkan terjadinya koma. Bila lebih dari 60% hemoglobin trikat CO, penderita dapat mninggal.
Setelah 12-24 jam, permeabilitas kapiler mulai membaik dan terjadi mobilisasi dan penyerapan cairan edema kembali ke pembuluh darah. Ini ditandai dengan meningkatnya diuresis.
Luka bakar sering tidak steril. Kontaminasi pada kulit mati, yang merupakan medium yang baik untuk pertumbuhan kuman, akan mempermudah infeksi. Infeksi ini sulit diatasi karena daerahnya tidak tercapai oleh pembuluh kapiler yang mengalami trobosis. Padahal pembuluh ini membawa sistem pertahanan tubuh atau antibiotik. Kuman penyebab infeksi pada luka bakar, selain berasal dari kulit penderita sendiri, juga ari kontaminasi kuman saluran napas atas dan kontaminasi kuman dilingkungan rumah sakit. Infeksi nosokomial ini biasanya sangat berbahaya karena kuman sudah banyak yang resisten terhadap antibiotik.
Pada luka bakar terjadi perubahan mikrosirkuler kulit dan terbentuk edema. Trauma panas menghasilkan perubahan karakteristik pada daerah yang terbakar, yaitu zone dengan sel-sel mati sehingga sifatnya irreversible (zone koagulasi) dan daerah palin luar yang memperlihakan hiperemia dimana kerusakan sel sangat minim dan paling dini menunjukkan perbaikan (zone hiperemia). Diantara kedua zone di atas ada zone statis dengan gangguan pada sel dan sirkulasi darah yang bersifat sementara. Tetapi zone statis ini sangat potensial untuk menjadi luka yang lebih luas dan lebih dalam sehingga mengenai seluruh tebal kulit karena kondisi sel-selnya sangat peka terhadap infeksi dan kekeringan yang menimbulkan kematian sel.
Cedera dermis menyebabkan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit sampai syok, yang dapa menimbulkan asidosis, nekrosis tubuler akut, dan disfungsi serebral. Kondisi-kondisi ini dijumpai pada fase awal (akut atau syok) yang biasanya berlangsung sampai 72 jam pertama.
Pada luka bakar timbul beberapa macam gangguan fisiologis yang akut, antara lain :
a.      Gangguan cairan
Terjadi perpindahan cairan dan elektrolit dari intravaskuler ke ekstravaskuler dan penguapan air yang berlebihan melalui permukaan kulit yang rusak.
Cairan dalam darah dan cairan ekstra sel dari bagian tubuh yang tidak terbakar pindah, masuk ke dalam bagian tubuh yang mengalami edema dan ke dalam bula untuk kemudian sebagian melalui kulit yang rusak. Ini menjelaskan bahwa pada syok, luka bakar selain hipovolemia juga terjadi kekurangan cairan ekstra sel dalam jaringan yang sehat sehingga terjadi gangguan metabolisme sel yang memperberat syok.
b.     Gangguan sirkulasi dan hematologi
Resistensi perifer naik karena sistem srteriola mengalami vasokontriksi disamping viskositas darah yang bertambah. Hemokonsentrasi ini menimbulkan fenomena sludging yang mengakibatkan bertambah hebatnya gangguan sirkulasi perifer sehingga oksigenasi dan perfusi jaringan sangat buruk.
c.      Gangguan hormonal dan metabolisme
d.     Gangguan imunologi

D.    DIAGNOSIS
Diagnosis luka bakar ditegakkan berdasarakan derajat luka bakar dan luas luka bakar, serta berat ringannya luka bakar.

E.    PENATALAKSANAAN 1,3,5,8,11,12
Prinsip penanganan luka bakar adalah penutupan lesi sesegera mungkin, pencegahan infeksi, mengurangi rasa sakit, pencegahan trauma mekanik pada kulit yang vital dan elemen di dalamnya, serta pembatasan pembentukan jaringan parut.
Pada saat kejadian, hal pertama yang harus dilakukan adalah menjauhkan korban dari sumber trauma. Padamkan api dan siram kulit dengan air. Pada trauma bahan kimia, siram kulit dengan air mengalir. Proses koagulasi protein sel di jaringan yang terpajan suhu tinggi berlangsung terus walau api telah dipadamkan, sehingga destruksi tetap meluas. Proses tersebut dapat dihentikan dengan mendinginkan daerah yang terbakar dan memperahankan suhu dingin pada jam pertama. Oleh karena itu, merendam bagian yang terbakar selama lima belas menit pertama sangat bermanfaat. Tindakan ini tidak dianjurkan pada luka bakar > 10%, karena akan terjadi hipotermia yang menyebabkan cardiac arrest.
Penatalaksanaan luka bakar meliputi :
1.     Airway and Breating
Lakukan resusitasi dengan memperhatikan jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi, yaitu:
a.      Periksa jalan napas
b.     Bila dijumpai obstruksi jalan napas, buka jalan napas dengan pembersihan jalan napas (suction), bila perlu lakukan trakeotomi atau intubasi.
c.      Berikan oksigen.
d.     Pasang intravena line untuk resusitasi cairan, berikan cairan Ringer Laktat untuk mengatasi syok.
e.      Pasang kateter buli-buli untuk pemantauan diuresis.
f.      Pasang pipa lambung untuk mengosongkan lambung selama ada ileus paraliik.
g.     Pasang pemantau tekanan vena sentral (Central Venous Pressure) untuk pemantauan sirkulasi darah, pada luka bakar ektensif (>40%).
2.     Circulation
Periksa cedera yang terjadi di seluruh tubuh secara sistematis untuk menentukan adanya cedera inhalasi, luas dan derajat luka bakar. Dengan demikian jumlah dan jenis cairan yang diperlukan untuk resusitasi dapat ditentukan. Terapi cairan diindikasikan pada luka bakar derajat II dan derajat III dengan luas > 25%, atau pasien tidak dapat minum. Terapi cairan dihentikan jika masukan oral dapat menggantikan parenteral. Dua cara yang lazim digunakan untuk menghitung kebutuhan cairan pada penderita luka bakar, yaitu :
a.      Cara Evans
Untuk menghitung kebutuhan cairan pada hari pertama :
·       Berat badan (kg) x % luka bakar x 1 cc NaCl (1).
·       Berat badan (kg) x % luka bakar x 1 cc larutan koloid (2)
·       2000 cc glukosa 5% (3)
Separuh dari jumlah (1), (2), atau (3) diberikan dalam 8 jam pertama. Sisanya diberikan 16 jam berikutnya. Pada hari kedua, diberikan setengah jumlah cairan hari pertama. Pada hari ketiga, diberikan setengah dari jumlah cairan hari kedua. Sebagai monitoring pemberian cairan lakukan perhitungan diuresis.
b.     Cara Baxter
Merupakan cara lain yang lebih sederhana dan banyak dipakai. Jumlah cairan pada hari pertama dihitung dengan rumus : % luka bakar x BB (kg) x 4 cc. Separuh dari jumlah cairan ini diberikan 8 jam perama, sisanya diberikan 16 jam berikutnya. Hari pertama terutama diberikan cairan elektrolit yaitu Ringer Laktat karena terjadi hipotermia. Untuk hari kedua diberikan setengan dari jumlah cairan hari pertama.

3.     Clothing
Singkirkan semua pakaian yang panas atau terbakar. Bahan pakaian yang menempel dan tidak dapat dilepaskan maka dibiarkan untuk sampai pada fase cleaning.
4.     Cooling
Dinginkan daerah luka bakar dengan menggunakan air mengalir selama 20 menit, hindari hipotermia. Kompres dengan air dingin (air sering diganti agar efektif tetap memberikan rasa dingin) sebagai analgesia untuk luka yang terlokalisasi.
Untuk luka bakar karena zat kimia dan luka bakar di daerah mata, siram dengan air mengalir selama 15 menit atau lebih. Bila penyebab luka bakar berupa bubuk, maka singkirkan terlebih dahulu dari kulit kemudian disiram dengan air yang mengalir.
5.     Cleaning
Jaringan yang sudah mati di buang untuk mempercepat proses penyembuhan dan resiko terjadinya infeksi berkurang. Pembersihan dilakukan dengan zat anastesi untuk menghilangkan rasa sakit.
6.     Analgetik
Beri parasetamol dengan dosis 20 – 30 mg/kg BB/24 jam. Waktu paruh parasetamol adalah 6 jam, jadi pemberian parasetamol dalam 24 jam sebanyak 4 kali.
7.     Antibiotik sistemik
Beri antibiotik sistemik seperti Cefotaxime dengan dosis 50 – 100 mg/kgBB/ 24 jam atau Gentamicine dengan dosis 3 – 5 mg/kgBB/24 jam.
8.     Topikal antibiotik
Beri antibiotik topikal dengan tujuan untuk mencegah dan mengatasi infeksi yang terjadi pada luka. Bentuk krim lebih bermanfaat daripada bentuk salep atau ointment. Yang dapat digunakan adalah silver nitrate 0,5%, mefenide acetat 10%, silver sulfadiazine 1% atau gentamisin sulfat. Kompret nitras argenti yang selalu dibasahi tiap 2 jam efektif sebagai bakteriostatik untuk semua kuman. Obat lain yang banyak di pakai adalah silver sulfadiazine dalam bentuk krim 1 %. Krim ini sangat berguna karena bersifat bakteriostatik, mempunyai daya tembus yang cukup, efektif terhadap semua kuman, tidak menimbulkan resistensi, dan aman.
9.     Balut luka dengan menggunakan kassa gulung kering dan steril.
10.  Berikan serum anti tetanus / toksoid yaitu ATS 3000 unit pada orang dewasa dan 1500 unit pada anak-anak.

Indikasi Rawat Inap 1,8,11
1.     Penderita syok atau terancam syok bila luas luka bakar > 10 % pada anak-anak atau > 15% pada orang dewasa.
2.     Terancam edama laring akibat terhirupnya asap atau udara hangat.
3.     Letak luka memungkinkan penderita terancam cacat berat seperti pada wajah, mata, kaki, atau perineum.

Tindakan bedah 1,7
Eskaratomy dilakukan juga pada luka bakar derajat III yang melingkar pada ekstermitas atau tubuh. Hal ini dilakukan untuk sirkulasi bagian distal akibat pengerutan dan penjempitan eskar. Tanda dini penjempitan berupa nyeri, kemudian kehilangan daya rasa, kebal pada ujung-ujung distal. Tindakan yang dilakukan yaitu dengan membuat irisan memanjang yang membuka eskar sampai penjempitan bebas.
Debridement dilakukan sedini mungkin untuk membuang jaringan mati dengan jalan eksisi tangensial.

Gambar 6. Tindakan Skin Graft


Gambar 7. Tindakan Skin Graft dan Debridement.


BAB III
KESIMPULAN

  1. Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan oleh energi panas atau bahan kimia atau benda-benda fisik yang menghasilkan efek baik memanaskan atau mendinginkan.
  2. Berdasarkan kedalaman luka bakar, luka bakar dibagi atas : Luka bakar derajat I (Superficial burn), Luka bakar derajat II (Parsial thicknees burn) yang terdiri dari Derajat II dangkal (superficial partial-thickness burn) dan Derajat II dalam (deep partial-thickness burn), Luka bakar derajat III (Full thicknees burn).
  3. Perhitungan luas luka bakar berdasarkan ”Rule of Nine” oleh Polaski dan Tennison dari Wallace : Kepala dan leher : 9%, Ekstermitas atas : 2 x 9% (kanan dan kiri), Paha dan betis-kaki : 4 x 9% (kanan dan kiri), Dada, perut, punggung, dan bokong : 4 x 9%, Perineum dan genital : 1%.
  4. Perhitungan luas luka bakar menurut Linch-Blocker untuk bayi yaitu : Kepala : 20%, Tangan, masing-masing 10%, Kaki, masing-masing 10%, Badan : kanan 20%, kiri 20%.
  5. Luka bakar juga dapat juga diklasifikasikan menurut berat atau ringannya luka bakar, yaitu : Ringan : Derajat I, Derajat II <10% (dewasa) dan <5% (anak dan orang tua), Derajat III <2%, Sedang :   Derajat II 10-20% (dewasa) dan 5-10% (anak dan orang tua), Derajat III 2-5%, Luka listrik tegangan tinggi, Tersangka cedera luka bakar saluran napas, Luka bakar melingkar, Penyakit penyerta yang meningkatkan kemungkinan terkena infeksi (cth. Diabetes), Berat : Derajat II >20% (dewasa) dan >10% (anak dan orang tua), Derajat III >5%, Luka listrik tegangan tinggi, Diketahui luka bakar saluran napas, Luka bakar yang jelas pada wajah, mata, telinga, genitalia atau persendian, Luka bakar terkait dengan cedera lain yang berat (patah tulang, trauma berat).
  6. Diagnosis luka bakar ditegakkan berdasarakan derajat luka bakar dan luas luka bakar, serta berat ringannya luka bakar.
  7. Prognosis dan penanganan luka bakar terutama tergantung pada dalam dan luasnya permukaan luka bakar. Selain itu factor letal daerah yang terbakar, usia, dan keadaan kesehatan penderita juga turut menetukan kecepatan penyembuhan. Luka bakar pada daerah perineum, ketiak, leer, dan tangan sulit perawatannya karena mudah mengalami kontraktur.










































DAFTAR PUSTAKA

  1. http://www.uptodate.com/treatment of minor thermal burns.htm
  2. http://www.lukabakar.net/penyebab_lb.htm
  3. http://puskesmaspalaran.wordpress.com/2006/11/05/luka-bakar
  4. Hadikusumo N, 1997, Ilmu Kedokteran Forensik, Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
  5. Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani W.I, Setiowulan B, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi ketiga jilid kedua, FKUI.
  6. Purwadianto A, Sampurna B, 2000, Kedaruratan Medik, edisi revisi, FKUI.
  7. Reksoprodjo S, 1995, Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, FKUI, edisi pertama.
  8. Sjamsuhidajat R, Jong W.D, 1998, Buku Ajar Bedah, EGC, edisi revisi.
  9. http://www.lukabakar.net/deskripsi_lb.htm
  10. http://www.lukabakar.net/kategori_lb.htm
  11. http://www.lukabakar.net/pngobat_prwtan.htm
  12. http://www.medicastore.com/med/detail_pyk.php?id=&iddtl=987&idktg=22&idobat=&UID=20080215033928202.133.82.2



No comments:

Post a Comment