Disusun untuk memenuhi daftar usulan penetapan angka kredit
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit diare sampai saat
ini masih tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia . Diperkirakan kejadian
diare berkisar antara 200 – 400 per 1000 penduduk per tahun, 60%-80%
diantaranya terjadi pada anak balita. Insiden tertinggi dijumpai pada anak
berusia di bawah 2 tahun (Lubis, 1991).
Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah
Tangga tahun 1995, penyakit diare menempati urutan kedua di Indonesia setelah ISPA, dengan
angka kejadian sebesar 4,66 per 1000 penduduk (Dep Kes RI, 1997). Angka
kesakitan diare semua golongan umur pada tahun 1997 sebesar 20,27 per seribu
penduduk dengan angka kematian 0,008 %
(Profil kesehatan Indonesia, 1998).
Menurut WHO tidak kurang dari 1 milyar episode diare terjadi tiap
tahun di seluruh dunia, 25-35 juta diantaranya terjadi di Indonesia . Di Indonesia, tiap anak mengalami diare 2-8 kali setiap
tahunnya dengan rata-rata 3,3 kali (Zein, 2001).
Di negara
berkembang, diperkirakan kematian anak-anak di bawah 5 tahun akibat diare
mencapi 4,6 juta setiap tahunnya. Pada populasi ini mortalitas karena diare
pada bayi antara 50 sampai 80 per seribu penduduk (Bukitwetan dkk, 2001).
Survei Kesehatan
Nasional 1992 menunjukkan bahwa kematian bayi dan anak umur 1-4 tahun
masing-masing meliputi 23,0% dan 8 %. Sebagaian penyebab kematian adalah
infeksi dan parasit. Diare merupakan penyebab kematian utama; 11,4% pada bayi
dan 23% pada anak balita (Hidayat, 1998).
Kemajuan global
untuk menurunkan angka kematian karena diare mencapai hasil yang bermakna,
terutama sejak diperkenalkannya pengobatan cairan dan elektrolit, namun angka
morbiditas diare masih saja tinggi dan masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat di berbagai negara. Keadaan ini nyata di negara-negara dengan kondisi
sanitasi dan kebersihan lingkungan yang buruk, penyediaan air bersih yang belum
memadai, kemiskinan dan taraf pendidikan yang kurang (Bukit wetan dkk, 2001).
Penyakit diare
merupakan salah satu penyakit yang berbasis pada lingkungan, dimana dua faktor
yang dominan berpengaruh adalah sarana air bersih dan pembuangan tinja hal
inilah yang saling berinteraksi bersama perilaku manusia yang dapat menimbulkan
diare (Purwanto, 2001).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian
tersebut di atas maka masalah penulisan dirumuskan sebagai berikut :
apakah pengetahuan tentang diare yang
kurang, kebiasaan tidak merebus air minum hingga mendidih, kebiasaan tidak
mencuci tangan dengan air dan sabun setiap selesai buang air besar dan mau
makan, kebiasaan membuang kotoran di sembarang tempat, tidak mempunyai jamban
yang memenuhi syarat sanitasi, kualitas bakteriologis air minum yang tidak
memenuhi syarat akan meningkatkan resiko
terjadinya diare cair pada semua golongan umur ?
C. Tujuan Penulisan
Mengetahui
faktor-faktor resiko terjadinya diare cair pada semua golongan umur dan karakteristik kasus.
E. Manfaat penulisan
a. Manfaat bagi masyarakat : dapat memberikan informasi tentang
faktor-faktor yang mempengaruhi (faktor resiko) terjadinya diare cair yang
diharapkan dapat digunakan sebagai
masukan dalam hal pencegahan terjadinya kasus diare cair oleh masyarakat.
b.
Manfaat bagi tenaga kesehatan : dapat memberikan informasi tentang faktor-faktor resiko terjadinya diare
cair.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Telaah Pustaka
1.
Penyakit Diare
a. Definisi Dan Pengertian Penyakit
Diare
Diare adalah penyakit yang ditandai
dengan perubahan bentuk dan konsistensi tinja melembek sampai mencair dan
bertambahnya frekuensi berak lebih dari biasanya, lazimnya tiga kali atau lebih
dalam sehari (Depkes RI, 1996). Menurut Ismail (1999), diare hanyalah gejala
berbagai penyakit yang ditandai oleh bertambah seringnya defikasi serta
bertambah encernya tinja yang dikeluarkan. Diare adalah keadaan defikasi yang tidak
normal hingga mencapai 4 kali atau lebih dalam sehari disertai perubahan
konsistensi tinja menjadi encer dengan/ tanpa mengandung darah dan atau lendir
(Gandahusada, 1989). Menurut Zein (2001), diare adalah sebagai pengeluaran
tinja yang tidak normal dan cair, yang dapat diklasifikasikan menjadi diare
akut ialah diare yang berlangsung kurang dari dua minggu, diare persisten
(diare klinik) ialah diare yang berlangsung lebih dari 2 minggu dan disentri
adalah diare yang disertai darah atau lendir. Diare adalah pengeluaran tinja
yang konsistensi dan frekuensinya lain dari biasanya menjadi lebih cair dan
lebih sering, atau pengeluaran tinja yang konsistensinya cair dan frekuensi
lebih dari 3 x /hari (Sudarmo dkk, 2001).
Departemen Kesehatan RI
(2000), mengklasifikasikan diare menjadi empat kelompok : (1) diare akut, yaitu
diare yang berlangsung kurang dari 14
hari, (2) diare persisten, yaitu diare akut yang berlanjut sampai 14 hari atau
lebih, (3) diare dengan penyakit penyerta (baik diare akut atau persisten yang
disertai penyakit lain), (4) diare berdarah (disentri).
b. Etiologi Dan Diagnosis Penyakit
Diare
Menurut Zein (2001), faktor penyebab diare
adalah peradangan usus oleh agent
penyebab seperti bakteri, virus, parasit, keracunan makanan atau minuman,
kekurangan gizi, imunodefisiensi, faktor musim dan geografis daerah dan
faktor-faktor yang lain seperti kurangnya fasilitas sanitasi dan hygiene, pemberian makanan pendamping
susu ibu (ASI) yang tidak sesuai. Purwanto (2001), mengelompokkan penyebab
diare menjadi 6 kelompok besar yaitu; infeksi, malabsorbasi, alergi, keracunan,
immunno defisiensi dan sebab-sebab lain.
Menurut Ramja (2000), golongan protozoa yang telah
diketahui sebagai penyebab diare adalah Balantidium
coli, Cryptosporidium, Entamoeba histolytica, Giardia lambia, Isospora belli dan Sarcocytis suihomonis. Cryptosporidium merupakan penyebab diare
yang akhir-akhir ini banyak dipublikasikan karena merupakan penyebab pada diare
pada penderita difisiensi imun, terutama pada penderita AIDS. Entamoeba hystolytica sering menyebabkan
desentri ameba, dan Giardia lambia
merupakan penyebab utama diare karena
parasit di negara maju.
Menurut Bukitwetan (2001),
berbagai jenis mikroorganisme diantaranya kuman-kuman Campylobacter, Shigella spp
dan Salmonella spp merupakan penyebab
penting diare selain Vibrio cholerae.
Hasil penelitian Sunarto dkk di Klaten Jawa Tengah (1985), dari 146 anak
menderita diare bahwa lamanya waktu balita menderita diare per episode sebesar
1,8 hari sampai dengan 4 hari.
Menurut Rusli (2001), untuk kepentingan pelayanan sehari-hari diagnosis
penyakit diare melalui diagnosis klinis maupun pemeriksaan laboratorik. Menurut
Raharjo (1990), di negara-negara berkembang hanya 20% etiologi penyakit dapat
ditentukan, namun dengan teknologi baru telah dapat ditemukan 80% penyebab
diare akut.
c. Epidemiologi Dan Pencegahan
Penyakit Diare
1.
Epidemiologi
Penyakit diare
Menurut Sudarmo dkk
(2001), berdasarkan SKRT 1986 menunjukkan angka kesakitan diare untuk seluruh
golongan umur 120-360 per 1000 penduduk dan untuk balita 1-2 x episode diare
setiap tahunnya atau 60% dari semua kesakitan diare. Angka kematiannya dapat
mencapai 5 per 1000 balita atau 135.000 kematian tiap tahun yang berarti tiap 4
menit 1 balita meninggal karena diare. Menurut Bukitwetan (2001), Diperkirakan
kematian anak-anak di bawah 5 tahun akibat diare mencapai 4,6 juta setiap
tahunnya.
Hasil Survey Kesehatan Nasional (1992),
kematian bayi dan anak umur 1-4 tahun masing-masing meliputi 23,0% dan 8%.
Sebagai penyebab kematian adalah penyakit infeksi dan parasit, dimana diare
merupakan penyebab kematian utama; 11,4% pada bayi dan 23,0% pada anak.
Menurut Sutoto (1996), angka kesakitan
diare untuk semua golongan umur adalah berkisar antara 120-360 per 1000
penduduk dan untuk balita menderita satu atau dua kali episode diare setiap
tahunnya atau 60% dari semua kesakitan adalah diare. Proporsi penyebab kematian
karena diare pada bayi sebesar 15,5%,
dan pada balita sebesar 19,1%.
2.
Pencegahan
Penyakit Diare
Penularan penyakit diare terjadi secara fecal oral route dan penderitanya banyak
yang berusia 5 tahun. Oleh karena itu tindakan ibu terhadap penanggulangan
diare pada balita, terutama mengenai hygiene
dan sanitasi rumah tangga sangat penting dalam usaha memotong,
menghentikan, menurunkan penderita diare pada balita (Zein, 2001).
Badan Kesejahteraan Anak
Sedunia atau Unicef (1993), menyatakan bahwa suatu keadaan lingkungan yang
mengancam kesehatan tidak hanya polusi air dari limbah kimia, tetapi juga
pencemaran organisme kotoran manusia. Yang terbesar masalah lingkungan adalah
kurangnya air bersih yang dapat melindungi manusia dari penyakit diare,
cacingan, kolera dan tifus.
Menurut Sunoto (1990), 7 cara intervensi yang cukup potensial, efektif
dan dapat dilaksanakan di negara berkembang untuk menurunkan angka kejadian
diare yaitu :
1. Peningkatan penggunaan ASI selama 6 bulan pertama dapat
menurunkan :
a.
Morbiditas diare sebesar 8-20% untuk bayi.
b. Morbiditas
diare sebesar 1-4 % untuk balita.
c.
Morbiditas diare sebesar 8-9 % untuk bayi dan balita.
2.
Imunisasi rotavirus pada bayi 0-2 tahun menurunkan morbiditas
diare sebesar 24% dan morbiditas diare bayi dan balita
7,7%.
3. Imunisasi
kolera secara oral akan menurunkan morbiditas diare pada bayi sebesar 0,1% dan
Morbiditas diare sebesar 1,7% pada balita.
4.
Imunisasi campak menurunkan morbiditas diare sebesar 1,8% dan mortalitas
diare bayi dan balita sebesar 1,3% (0,6-3,8%).
5. Peningkatan
penggunaan air bersih.
6. Peningkatan
higiene perorangan.
7. Peningkatan
sanitasi lingkungan, ketiga upaya ini dapat menurunkan morbiditas diare
sebanyak 35-50%.
Jika ketujuh cara intervensi tersebut
dilaksanakan dengan baik dan serentak,
berarti akan dapat menurunkan morbiditas diare 90 %.
Penelitian di Surabaya, Jawa Timur
(Subijanto dkk, 2001) menyimpulkan tindakan ibu yang dilakukan dalam menghadapi
anaknya yang sedang menderita diare yang sesuai dengan tatalaksana diare yang
benar adalah sebagai berikut; 57,4% sangat baik, 37,1% baik, 5,5% kurang baik
d. Patogenesis dan Patologi Penyakit Diare
Menurut Ramja (2000), berdasarkan perjalanan penyakitnya diare yang
disebabkan infeksi parasit dibagi menjadi diare akut dan kronis. Diare akut
terjadi mendadak dan berlangsung hanya beberapa hari, antara lain terjadi pada
amebiasis, giardiasis dan balantidiasis. Diare kronis terjadi mendadak dan
berlangsung lebih dari 3 minggu. Diare kronik dapat terjadi pada amebiasis dan
giardiasis yang merupakan kelanjutan dari diare akut. Berdasarkan mekanisme
patogenesisnya, diare karena infeksi usus parasitik dikelompokkan menjadi tipe
eksudatif, sekretorik dan osmotik. Tipe eksudatif antara lain terjadi pada
disentri ameba. Pada tipe ini terjadi inflamasi, ulserasi dan infiltrasi
seluler mukosa usus sebagai akibat invasi parasit ke dalam mukosa usus yang
merangsang reaksi imun hospes. Kelainan ini mengakibatkan bocornya serum protein darah ke dalam lumen
usus. Tipe sekretorik antara lain terjadi pada disentri ameba. Diare terjadi
karena rangsangan mukosa usus oleh toksin yang dibentuk parasit hingga
mengakibatkan usus mensekresikan cairan dalam jumlah yang berlebihan. Tipe
osmotik dijumpai pada infeksi giardiasis, pada tipe ini infeksi parasit
mengakibatkan atropi vili mukosa usus yang yang berakibat terjadinya defisiensi
laktosa sekunder untuk kemudian menimbulkan diare osmotik.
Infeksi patogen enterik pada
umumnya melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi dan paparan terhadap
penyebab penyakit diare dapat terjadi melalui kebiasan mengkonsumsi makanan
dari penjaja makanan yang mempunyai higiene lingkungan yang kurang baik.
e. Kebijaksanaan Program Penyakit Diare
Menurut Purwanto (2001), kebijaksanaan tehnis program penyakit
diare dititik beratkan pada intervensi untuk menurunkan angka kematian dan
kesakitan dengan melaksanakan tatalaksana diare, pencegahan penyakit yang
efektif serta penanggulangan kejadian luar biasa. Menurut Sutoto dkk (1996),
tujuan program penanggulangan penyakit diare dalam Repelita adalah: (1)
Menurunkan angka kematian bayi/balita yang disebabkan diare sebesar 25%; (2)
menurunkan angka kesakitan diare sebesar 25% sehingga episode diare pada balita
menurun dari 2,1 menjadi 1,6 kali per tahun. Dengan strategi (kebijaksanaan
tehnis) melalui upaya penatalaksanaan kasus diare yang tepat dan efektif dan
upaya pencegahan penyakit diare.
f. Faktor Resiko Penyakit Diare
Penelitian Irianto dkk (1994) di Jakarta, menyimpulkan
bahwa sumber air utama akan meningkatkan
resiko (OR) sebesar 1,2 kali terhadap
terjadinya diare pada anak balita dengan probabilitas (p<0,05), jenis kakus
akan meningkatkan resiko (OR) sebesar 1,76 kali terhadap terjadinya diare pada
anak balita dengan probabilitas (p<0,05), jarak sumur ke rembesan tinja akan
meningkatkan resiko (OR) sebesar 1,35 kali terhadap terjadinya diare pada anak
balita dengan probabilitas (p<0,05), bahan utama untuk lantai tidak akan
meningkatkan resiko (OR) sebesar 1.01 dengan probabilitas (p>0,05).
Beberapa faktor resiko yang mempengaruhi
balita mendapatkan diare antara lain : sumber air minum 2,21 kali, status
ekonomi rendah 1,55 kali, tidak punya jamban 1,54 kali, pendidikan orang tua
1,46 kali, tempat tinggal 1,23 kali dan
status gizi 1,7 kali dibandingkan dengan kelompok umur lainnya (Dep Kes
RI, 1997).
Penelitian di Indonesia
(Agustina dkk, 1997) ditemukan adanya
hubungan status gizi, umur anak, pendidikan ibu, umur ibu, penyediaan air
bersih, type jamban dan kepadatan
rumah terhadap terjadinya penyakit diare. Penelitian di Jakarta (Agustina dkk,
1991) ditemukan adanya hubungan antara umur anak, pendidikan ibu, pembuangan
tinja dan type jamban terhadap terjadinya diare. Penelitian di Malang , Jawa
Timur (Loeki dkk, 1994) menyimpulkan bahwa pada anak dengan status gizi
kurang/buruk akan lebih mudah terkena
infeksi protozoa usus patogen dibandingkan dengan penderita status gizi baik.
Penelitian di Aceh, (Zein, 2000) menyimpulkan bahwa umur, pendidikan, dan jenis
pekerjaan ibu sangat menentukan besarnya pengetahuan yang diperoleh ibu tentang
penyakit diare. Hasil penelitian
Inggarfitri dkk di malang, Jawa Timur (1994), menyimpulkan bahwa
penderita status gizi kurang/ buruk akan lebih mudah terkena infeksi protozoa
usus patogen dibandingkan denganMenurur Zein (2000), resiko terjadinya diare
lebih besar pada keluarga yang tidak mempunyai fasilitas jamban keluarga.
Penyediaan fasilitas air bersih sedekat mungkin dengan pemakai dapat menurunkan
resiko diare. Menurut Sudarmo dkk (2001), masih tingginya kematian dan
kesakitan diare karena beberapa faktor antara lain kesehatan lingkungan yang
belum memadai, keadaan gizi, kependudukan, pendidikan, sosial ekonomi dan
perilaku kesehatan di masyarakat secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi
penyakit diare.
B. Landasan
Teori
Dep Kes
RI (2000), penularan diare secara fecal oral, kontak dari orang ke orang
atau kontak dengan alat rumah tangga. Infeksi menyebar melalui makanan dan air
yang terkontaminasi dan biasanya terjadi pada daerah dengan higiene dan
sanitasi perorangan yang buruk.
Menurut Zein (2001), penularan penyakit diare terjadi
secara fecal oral route dan penderita
banyak yang berusia 5 tahun. Oleh karena itu tindakan ibu terhadap
penanggulangan diare pada balita, terutama mengenai hygiene dan sanitasi rumah tangga sangat penting dalam usaha
memotong, menghentikan, menurunkan penderita diare pada balita. Pengetahuan,
sikap dan tindakan mengenai hygiene dan
sanitasi rumah tangga merupakan faktor utama dalam mengatasi diare pada anak
balita.Terjadinya diare lebih besar pada keluarga yang tidak mempunyai
fasilitas jamban keluarga dan penyediaan fasilitas air bersih.
Dep Kes
RI (1997), beberapa faktor resiko yang mempengaruhi balita mendapatkan diare
antara lain; sumber air minum, status ekonomi rendah, tidak punya jamban,
pendidikan orang tua, status gizi. Bentuk pemberdayaan masyarakat dalam
mencegah diare adalah; pemakaian air bersih untuk keperluan sehari-hari, minum
air yang sudah direbus, buang air besar pada jamban termasuk membuang kotoran
balitanya, memperhatikan kebersihan dalam penyiapan makanan, cuci tangan dengan
sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar.
Menurut
Bukitwetan (2001), kejadian diare berhubungan dengan kondisi
sanitasi dan kebersihan lingkungan yang buruk, penyediaan air bersih yang belum
memadahi, kemiskinan dan taraf pendidikan yang kurang.
Menurut Purwanto (2001), penyakit diare merupakan salah satu penyakit
yang berbasis pada lingkungan, dimana dua faktor dominan yang berpengaruh
adalah sarana air bersih dan pembuangan tinja, hal inilah yang saling
berinteraksi bersama perilaku manusia yang dapat menimbulkan diare.
Menurut Lubis dkk (1997), ditemukan
adanya hubungan status gizi, umur anak, pendidikan ibu, pembuangan tinja dan
tipe jamban terhadap terjadinya diare.
Menurut Badan Kesejahteraan Anak
Sedunia/Unicef (1991), Masalah lingkungan yang terbesar adalah kurangnya air
bersih yang dapat melindungi manusia dari penyakit diare, cacingan, kolera dan
tifus.
Menurut Bukitwetan (2001),
kejadian diare berhubungan dengan kondisi sanitasi dan kebersihan
lingkungan yang buruk, penyediaan air bersih yang belum memadahi, kemiskinan
dan taraf pendidikan yang kurang.
Menurut Purwanto (2001), penyakit diare merupakan salah satu penyakit
yang berbasis pada lingkungan, dimana dua faktor dominan yang berpengaruh
adalah sarana air bersih dan pembuangan tinja, hal inilah yang saling
berinteraksi bersama perilaku manusia yang dapat menimbulkan diare.
Menurut Sunoto, (1990), peningkatan penggunaan
sarana air bersih (SAB), hygiene perorangan dan peningkatan sanitasi lingkungan
dapat menurunkan morbiditas diare 35-50%.
Menurut
Pradono (1999), prevalensi diare pada balita sedikit lebih tinggi pada
laki-laki dibandingkan perempuan dan berdasarkan pendidikan ibu prevalensi
diare berbanding terbalik dengan pendidikan ibu, makin tinggi tingkat
pendidikan ibu makin rendah prevalensi diare pada balita.
Menurut Irianto (1994), sumber air utama yang tidak memenuhi syarat
sanitasi, jenis kasus yang tanpa tangki septik, jarak sumur dengan tempat
rembesan tinja akan meningkatkan resiko terjadinya diare pada balita.
C. Definisi Operasional
1. Pengetahuan
tentang diare adalah pengetahuan penderita tentang diare cair yang digali
dengan memberikan 10 pertanyaan yang berhubungan dengan diare. Apabila kasus
berusia balita atau anak-anak pertanyaan diberikan kepada orang tuanya, dan
apabila kasus dewasa pertanyaan diberikan langsung kepada kasus.
a. Dikatagorikan
mempunyai pengetahuan yang kurang tentang diare apabila dari 10 pertanyaan yang
diberikan hanya dijawab dengan benar sebanyak 6 buah pertanyaan atau kurang.
b. Dikatagorikan
mempunyai pengetahuan yang cukup apabila dari 10 pertanyaan yang diberikan
dapat dijawab dengan benar lebih dari 6 buah pertanyaan.
2. Kebiasaan merebus air hingga mendidih
adalah kebiasaan dalam keluarga merebus air yang akan diminum hingga mendidih.
a. Dikatagorikan
mempunyai kebiasaan merebus air hingga mendidih apabila dalam keluarga selalu
merebus air yang akan diminum hingga mendidih.
b. Dikatagorikan
tidak mempunyai kebiasaan merebus air hingga mendidih apabila dalam keluarga
tidak selalu merebus air yang akan diminum hingga mendidih.
3.
Kebiasaan mencuci tangan dengan air dan sabun adalah
kebiasaan penderita
(ibu balita) yang selalu mencuci tangan dengan air dan sabun setelah buang air besar dan sebelum
makan.
a. Dikatagorikan mempunyai kebiasaan mencuci tangan dengan air
dan sabun apabila
setelah buang air besar dan sebelum makan selalu mencuci tangan dengan air dan
sabun.
b. Dikatagorikan
tidak mempunyai kebiasaan mencuci tangan dengan air dan sabun apabila setelah buang air
besar dan sebelum makan tidak selalu
mencuci tangan dengan air dan sabun.
4. Membuang tinja di sembarang tempat
adalah kebiasaan keluarga termasuk kasus diare cair yang
dalam membuang tinja tidak pada jamban yang dilengkapi dengan tangki
septik atau di tempat lain misalnya
sungai, danau, lobang tanah.
a. Dikatagorikan
tidak membuang tinja di sembarang tempat apabila kasus/ subyek penelitian selalu membuang tinjanya di jamban yang
dilengkapi dengan tangki septik.
b. Dikatagorikan
membuang tinja di sembarang tempat apabila kasus/subyek penelitian tidak selalu
membuang tinjanya pada jamban yang dilengkapi dengan tangki septik.
5. Kepemilikan jamban adalah kepemilikan
jamban dalam keluarga yang memenuhi syarat sanitasi .
a. Dikatagorikan
memiliki jamban yang memenuhi syarat sanitasi apabila dalam keluarga memiliki
jamban pribadi yang dilengkapi dengan
tangki septik dan jarak rembesan tinja dengan sumber air minum > dari 10
m.
b. Dikatagorikan
tidak memiliki jamban yang memenuhi syarat sanitasi apabila dalam keluarga
tidak memiliki jamban pribadi atau memiliki jamban pribadi tetapi tidak dilengkapi
dengan tangki septik atau dilengkapi dengan tangki septik namun jarak rembesan
tinja dengan sumber air minum < 10m.
6.
Kualitas bakteriologis air minum adalah kualitas bakteriologis air minum
yang diperiksa secara laboratoris dengan melihat jumlah coli tinja dalam sumber air
minum.
a. Dikatagorikan
sumber air minum memenuhi syarat bakteriologis apabila berdasarkan hasil
pemeriksaan laboratorium jumlah coli tinja
dalam air masih memenuhi syarat maksimal yang diperbolehkan menurut syarat
bakteriologis air minum.
b. Dikatagorikan
sumber air minum tidak memenuhi syarat bakteriologis apabila berdasarkan hasil
pemeriksaan laboratorium jumlah coli tinja
melebihi syarat maksimal yang diperbolehkan menurut syarat bakteriologis air
minum.
7. Umur
adalah umur penderita dalam bulan atau tahun
8.
Jenis kelamin adalah jenis kelamin penderita (laki-laki/ perempuan).
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
pengetahuan tentang diare yang kurang, kebiasaan tidak
merebus air minum hingga mendidih, kebiasaan tidak mencuci tangan dengan air
dan sabun setiap selesai buang air besar dan mau makan, kebiasaan membuang
kotoran di sembarang tempat, tidak mempunyai jamban yang memenuhi syarat
sanitasi, kualitas bakteriologis air minum yang tidak memenuhi syarat akan meningkatkan resiko terjadinya diare cair
pada semua golongan umur.
B.
Saran
a. Agar
dalam membuat resapan pembuangan tinja diupayakan jarak dengan saran air minum
lebih dari 10 meter, apabila tidak memungkinkan konstruksi bangunan sumber air
minum dan resapan tinja hendaknya memenuhi syarat konstruksi bangunan fisik
sarana air bersih maupun tempat pembuangan tinja.
b. Agar
mengupayakan dalam setiap rumah tangga memiliki fasilitas pembuangan tinja
milik sendiri.
c. Agar
tetap berupaya untuk meningkatkan pengetahuan tentang penyakit diare dan
upaya-upaya pencegahannya melalui penyuluhan kesehatan yang diberikan oleh
tenaga kesehatan maupun media yang lain.
d. Agar
mengupayakan dalam setiap rumah tangga memiliki sumber air minum milik
sendiri.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Abramson,
J.H. , 1997, Metode Survei Kedokteran
Komunitas pengantar studi epidemiologi dan evaluatif, (terjemahan), Gadjah
Mada University Press, Yogyakarta .
Agustuna,
L. , Widodo, Tjitra, E. , Irianto, J. , 1997, Risk Factors Influencing Diarrhoeae
Diseases of Infants and Clildren Under Five Years of Age in Indonesia , Sanitas, Vol III No 2,
113-116.
Agustina,
L. , Djaya, S. , 1997, Faktor-faktor
yang mempengaruhi diare berdarah dan diare berlendir (SDKI), Sanitas, Vol III No 2, 120-124.
BPS,
Sleman, 2000, Indikator Kesejahteraan
Rakyat Dan Standar Indikator Kesra Kabupaten Sleman, BPS Sleman.
Badan
Lit Bang Kes, 1992, Abstrak Penelitian Kesehatan, Lit Bang Kes Dep Kes, Jakarta .
Bonang
, 1978, Mikrobiologi, FK Atma Jaya, Jakarta .
Bukitwetan,
P., Suryawidjaya, J., Salim, O., Aidiefit, M., Lesmana, M. 2001, Diare Bakterial : Etiologi Dan Pola
Kepekaan Anti Biotika Di Dua Pusat Kesehatan Masyarakat Di Jakarta , Journal
Kedokteran Tri Sakti, Vol 20 No 3. 57-65.
Dep
Kes, R. I. , 1997. Strategi Komunikasi
Program Pemberantasan Penyakit Diare, Pusat Penyuluhan Kesehatan
Masyarakat, Jakarta .
Dep
Kes, R.I., 1996, Laporan Survei Pengetahuan, Praktek Petugas Puskesmas Dan Pengetahuan
Ibu Rumah Tangga Serta Akses Oralit Di Masyarakat , Dirjen PPM & PLP,
Jakarta.
Din
Kes, Kab Sleman, 1998, Profil Kesehatan
Kabupaten Sleman, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Yogyakarta .
Din
Kes, Kab Sleman, 1999, Profil Kesehatan
Kabupaten Sleman, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Yogyakarta .
Din
Kes, Kab Sleman, 2000, Profil Kesehatan
Kabupaten Sleman, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Yogyakarta .
Din
Kes, Kab Sleman. , 2001, Profil Kesehatan
Kabupaten Sleman, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Yogyakarta .
Enggarfitri,
L. , Baskoro, A. , Santoso, N. , 1996, Protozoa Usus Patogen Yang Ditemukan
Pada Anak Diare Dengan Berbagai Status Gizi, Majalah Kedokteran Unibrow, Vol XII, No 3, 14-20.
Hidayat,
A. , 1988. Pengaruh Pemberian Zeng Terhadap Diare Memanjang Pada Anak Balita, Majalah Kedokteran Universitas Trisakti,
Vol 17 No 2, 71-78.
Irianti,
S. , Zalbawi, S. , Supraptini, 1999/2000, Penelitian Dalam Rangka Penerapan
Sistem Pembuangan Tinja Dan Sampah Tepat Guna Desa Pantai Di Kabupaten Rembang
Dan Kabupaten Lamongan, Buletin Kesehatan,
No 27 (3 dan 4), 346-363.
Irianto,
J., Soesanto, S., Supartini, Inswiasri, Irianti., S., Anwar, A., 1994,
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Diare Pada Anak Balita, Buletin Penelitian Kesehatan , Th 1996,
No 24, 77-96
Ismail,
R. , 1999, Membawa Ilmu Untuk Mereka Yang Membutuhkan Suatu Refleksi
Berdasarkan Keterlibatan Dalam Kegiatan Penaggulangan Diare, Majalah Kedokteran Sriwijaya, Th 31, No
1, 1-9.
Kelkar,
S., Purohit, S., Boralkar, A., Verma, S., 1996, Prevalence Of Rotavirus
Diarrhea Among Out-Patients And Hospitalized Patients: A Comparison, Southeas Asian Journal Trop Med Public
Health, Th 2001, Vol 32, No 3, 494-499
Lemeshow
, S, dkk, 1997, Besar Sampel Dalam
Penelitian Kesehatan (Terjemahan),Gadjah Mada University Press, Yogyakarta , 1997.
Lubis,
I. , Pasaribu, S. , Lubis, M. , Lukman, H. ,
Lubis, C. , 1991, Risiko Terjadinya
Diare Identifikasi Faktor Pada Bayi, Jurnal
Kedokteran Dan Farmasi, No 2, Tahun 17, 106-109.
Makmur,
T, 2001, Faktor yang berhubungan dengan pengetahuan ibu dalam penanggulangan
dini diare pada balita di Kecamatan Baiturrahman tahun 2000, Jurnal Kedokteran Syiah Kuala, Vol 1
No:1, 11-16.
Marto
Sudarmo, dkk, 2001, Tindakan ibu terhadap anaknya yang menderita gastointeritis
akuta/diare akut, Bulettin Ilmu Kesehatan
Anak FK Unair, Tahun XXX, No 2, 73-91.
Murti,
B. 1977, Prinsip Dan Metode Riset
Epidemiologi, Gadjah Mada University
Press Yogyakarta .
Purwanto,
E.H, 2001, Tinjauan sekilas
kebijaksanaan program pemberantasan diare (P2 Diare), Majalah Penyakit Inspeksi Indonesia, Tahun 1, No 1,30-31.
Pradono,
J., Ratna, L., 1999, Prevalensi Dan Perawatan Diare Pada Balita SDKI 1991,1994
dan 1997, Buletin penelitian Kesehatan.
26(4) 1998/1999, 145-152.
Ramya,
M. , 2000, Protozoa Parasit Penyebab Diare, Majalah
Kedokteran Sriwijaya, Th 32, No 2, 19-22.
Soenarto,
S.Y, dkk, 1985, Dysentery in children
under five years of age; a longitudinal prospective study in primary healt care
in Indonesia , Gadjah Mada University , Yogyakarta Indonesia .
Soesanto,
S. , 2000, Tangki Septik Dan Masalahnya, Media
Lit Bang Kesehatan, Vol X No 1, 4-7.
Sudarmo,
S., Suparto, P., Saharso, D., Ontoseno, T., Tindakan Ibu Terhadap Anaknya Yang
Menderita Gastroenteritis Akuta/Diare Akut, Buletin
Ilmu Kesehatan Anak, Tahun XXX, No 2 April 2000,73-91
Titanium Magnetic | iTanium Arts
ReplyDeleteUse this titanium pan free Spinning Magnetic Razor Blade to strike titanium hammers more efficiently fallout 76 black titanium and efficiently, improving your craftsmanship while titanium necklace making your craft. Use titanium bolt it for your
f271x0dornf347 dildos,horse dildo,custom sex doll,wholesale sex toys,dildo,sex toys,dog dildo,dog dildo,Bullets And Eggs r794j8fobss775
ReplyDelete