pendidikan seksual dini
dalam menanggulangi masalah
seksualitas
di kalangan remaja.
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Masa remaja adalah
masa transisi atau masa peralihan dari kehidupan anak-anak menuju kehidupan
dewasa yang bertanggungjawab. Dalam masa ini, remaja mengalami gejolak batin
antara rasa ingin tahu dan keinginan untuk mencoba hal-hal yang dianggap baru
dan asing baginya serta kebimbangan antara benar atau tidaknya jalan yang akan
ditempuhnya. Untuk mengatasi rasa
kebimbangan dan memenuhi rasa ingin tahu tersebut, remaja berusaha mencari
penjelasan dan informasi dari lingkungannya. Kebutuhan informasi tersebut
diupayakan sepenuhnya dari keluarga, sekolah, ataupun dari lingkungan (Abrar,
A.N., 1985).
Di zaman globalisasi dan
era kecanggihan teknologi mutakhir memungkinkan penyampaian informasi sebanyak
mungkin, selain memberi manfaat teryata juga mampu memberikan dampak negatif
bagi masyarakat, salah satunya adalah masalah seksual.
Salah satu permasalahan yang ada pada remaja
adalah masalah seksualitas. Dewasa ini media massa , masyarakat juga tokoh-tokohnya dari
segala lapisan sibuk membicarakan persoalan yang bersangkut paut dengan masalah
seksualitas. Masalah remaja yang perlu mendapatkan perhatian adalah fertilitas
remaja yang meningkat sebagai akibat menifestasi perilaku seksual yang biasanya
muncul pada saat laki-laki atau perempuan mencapai masa pubertas dan umumnya
akan menghilang sendiri saat mereka menjadi dewasa (Haditono, S.R., 1984).
Di samping itu masalah tersebut juga
bersumber dari kurangnya pengetahuan remaja tentang masalah-masalah seksual,
karena mereka tidak pernah mendapatkan pengarahan yang benar mengenai hal
tersebut, yang disebabkan oleh para orang tua merasa sungkan, tabu, dan enggan
untuk membicarakan masalah seksual kepada remajanya. Orang tua kebanyakan
menganggap hal tersebut adalah dosa, tidak diperbolehkan agama, dan masyarakat
tidak menyukainya kalau masalah seksualitas dibicarakan secara terang-terangan
di masayrakat, sehingga menyebabkan remaja melakukan masturbasi secara
sembunyi-sembunyi dan kemudian setelah melakukannya akan merasa bersalah dan
berdosa, dan rasa ini akan menghantuinya terus-menerus.
Keadaan seperti ini akan mendorong remaja
untuk mendapatkan informasi tentang seksualitas dari lingkungannya, padahal
informasi yang didapat belum tentu berasal dari sumber yang benar dan dapat
dipercaya.
Disinilah perlunya pendidikan seksual bagi
remaja yang sesuai dengan kacamata yang benar untuk mencapai tingkat kedewasaan
seksual. Kedewasaan yang dimaksud adalah pengertian, tingkah laku, dan
penghayatan seksualitas yang dapat memberikan kebahagiaan kepada yang
bersangkutan dan sesuai dengan norma-norma sosial dan agama (Haditomo, S.R.,
1984).
B. Permasalahan
Apakah memberikan
informasi mengenai pentingnya pendidikan seksual dini dapat menanggulangi
masalah seksualitas di kalangan remaja ?
Tujuan
Penulisan
1. Mengetahui
cara melaksanakan pendidikan seksualitas secara benar yaitu meliputi waktu
pemberian, materi yang harus diberikan dan cara memberikan serta siapa yang
memberikannya.
2. Mengetahui
peran keluarga dan sekolah dalam pendidikan seksual.
3. Mengetahui
peran medik dalam pendidikan seksual sehubungan dengan kegiatan kesehatan jiwa
masyarakat.
A. Manfaat
Penulisan
- Memberikan
gambaran mengenai pentingnya pendidikan seksual dini dalam menanggulangi
masalah seksualitas di kalangan remaja.
- Selanjutnya
informasi ini dapat digunakan sebagai dasar penentuan kebijakan
operasional program kesehatan reproduksi.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
I. Seksualitas, Remaja, Pendidikan Seksual, dan Masalahnya
A. Seksualitas
Seksualitas
adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan seks. Seks itu sendiri adalah
jenis kelamin atau ciri-ciri yang membedakan manusia disebut wanita atau pria.
Sifat-sifat yang membedakan kedua makhluk itu secara fisik, perbedaan perilaku
terutama dalam fungsi reproduksinya. Dalam perkembangan selanjutnya pengertian
seks didalamnya tercakup kopulasi atau kohabitasi/senggama (Mardjikoen, P.,
1988).
Jika
dilihat dari definisi tersebut, tampak bahwa yang dimaksud dengan seksual
tidaklah selalu hal-hal yang bersifat porno, karena itu menyangkut hubungan
antara dua jenis kelamin yang berbeda.
B. Remaja
Remaja
merupakan kelompok umur belasan tahun (10-20 tahun) yang secara fisiologis dan
psikologis memang sangat berbeda dengan kelompok umur lainnya, baik itu
kelompok anak-anak maupun dewasa, sehingga diakui bahwa remaja mempunyai
ciri-ciri sendiri dan perilaku yang khas (Mardjikoen, P., 1988).
WHO
Meeting on Pregnancy and Abortion in adolescence 1974 mendefinisikan remaja
sebagai kurun waktu dimana seseorang :
1. Secara berangsur-angsur memperlihatkan perubahan dari
mulai saat timbulnya tanda-tanda kelamin sekunder pada kematangan seksual.
2. Menunjukkan
perkembangan jiwa dan pola-pola identifikasi dari diri anak-anak menjadi
manusia dewasa
3. Telah berubah status sosio-ekonominya dari sama sekali
tergantung untuk menjadi relatif bebas. Untuk batasan umur, WHO tahun 1978
menetapkan masa usia remaja adalah antara 11-14 tahun hingga kira-kira 25
tahun.
C. Pendidikan Seksual
Seks atau seksual adalah jenis kelamin. Laki-laki dan perempuan. Seks juga mengandung arti
perhubungan antara laki-laki dan perempuan. Disamping jasmaniah, seksualitas
juga mengandung aspek spiritual. Sebab jumlah itulah pendidikan seksual berarti
mendidik anak untuk memperoleh tingkah laku yang baik dalam hal seksual, sesuai
dengan norma-norma agama, sosial, dan kesusilaan, sehingga akhirnya dapat
mencapai kebahagiaan dalam hidup (Haditono, S.R., 1980).
Pendidikan
seksual sebagaimana pendidikan yang lain pada umumnya mengandung arti
pengalihan nilai dari pendidik ke subyek didik. Dengan demikian informasi
tentang seks tidak diberikan telanjang, melainkan diberikan secara konstektual,
yaitu dalam kaitannya dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
Pendidikan seksual secara konstektual mempunyai ruang lingkup yang luas, tidak
terbatas pada perilaku hubungan seksual semata-mata, tetapi menyangkut pula
hal-hal seperti peran pria dan wanita dalam masyarakat, hubungan pria dan
wanita dalam pergaulan, dan sebagainya sehubungan dalam kehidupan sehari-hari.
Di Indonesia pendidikan seksual ini sering dinamakan pendidikan kehidupan
berkeluarga.
D. Masalah Seksualitas Remaja
Meningkatnya
kadar hormon testosteron pada remaja akan mempengaruhi dorongan seksual,
seiring dengan meningkatnya dorongan seksual timbul konflik karena upaya untuk
mengendalikannya harus sesuai nilai dan norma yang dianut. Bentuk tingkah laku
seksual dapat mulai dari perasaan tertarik, berkencan, bercumbu sampai
bersenggama. Obyek seksual bisa berupa orang lain, hanya dalam khayalan atau
diri sendiri. Tingkah laku ini bisa berdampak cukup serius seperti perasaan
bersalah dan berdosa, sedih, marah dan lain-lain. Dampak lainnya adalah
kehamilan pranikah yang dapat menyebabkan pengguguran kandungan. Berbagai macam
dan bentuk permasalahan seksualitas pada
remaja yang hendaknya mendapat perhatian diantaranya adalah :
1. Masturbasi
Masturbasi
adalah menimbulkan rangsangan dan kepuasan seksual pada diri sendiri.
Masturbasi biasanya merupakan pendahuluan yang normal sebelum perilaku
heteroseksual. Penelitian Kinsey di Amerika Serikat menunjukkan bahwa hampir
semua pria dan tiga per empat dari semua wanita melakukan masturbasi pada suatu
waktu dalam hidup mereka. Masturbasi menjadi patologik bila dilakukan secara
kompulsif, sehingga merupakan suatu gejala gangguan jiwa, bukan karena seksual
tetapi secara kompulsif (W.F. Maramis, 1998).
Pada pria cara memuaskan nafsu syahwat dengan diri
sendiri terutama dengan merangsang penis, hingga ia berdiri, ereksi dan
berakhir dengan pengeluaran mani, ejakulasi dan memberikan nikmatnya orgasme. Pada
wanita masturbasi dilakukan dengan cara merangsang alat kelaminnya sendiri,
baik dengan tangan ataupun dengan cara memasukkan benda-benda kedalam liang
vagina, sehingga menimbulkan kepuasan atau orgasme.
Masturbasi dalam batas normal apabila dilakukan paling
banyak satu kali dalam satu minggu, atau dalam satu bulannya kurang dari empat
kali. Sehingga diharapkan mengurangi
pengaruh jelek terhadap tubuh jasmaniah maupun rohaniah.
Masturbasi dapat
berdampak negatif oleh karena pengetahuan yang kurang. Seseorang yang melakukan
masturbasi sebagai pemuasan kesenangan dan kenikmatan yang berlebihan dapat
menyebabkan depresi, adanya perasaan tertekan apabila suatu saat dia tak dapat
melakukan masturbasi lagi.
Pada umumnya ahli-ahli
seks berpendapat bahwa onani (masturbasi, koitus interuptus) adalah suatu
gejala normal dan tidak akan memberikan pengaruh jelek terhadap tubuh
jasmaniah, namun memberikan pengaruh buruk terhadap rohaniah, yang langsung
memberikan gangguan kepada tubuh jasmaniah.
2. Homoseksualitas
Homoseksualitas adalah
tindakan pemuasan nafsu syahwat dengan manusia sekelamin. Ada bermacam pikiran
tentang motivasi homoseksualitas ini, ada yang mengatakan bahwa
laki-laki takut kepada perempuan, ia takut akibat pelacuran, atau sebaliknya perempuan takut
pada laki-laki dan tempat pelacuran. Apa sebab sebenarnya belum dapat
diketahui.
3. Prostitusi
(Wanita Tuna Susila)
Mungkin karena dorongan ingin mencoba atau oleh dorongan
kawan-kawan sebaya dapat menyebabkan seseorang melacurkan diri. Namun disini
jelas tidak memperoleh kesenangan yang diinginkannya, karena dilakukan
penjualan diri tanpa rasa cinta. Selain itu ditempat tersebut merupakan sarana
penyakit kelamin, seperti GO, sifilis dan sebagainya (Haditono, S.R., 1980).
4. Seks
Pranikah
Ada pro dan kontra dalam
menyingkapi hubungan seks pranikah. Dipandang dari sudut norma
moral maupun agama, tentunya hubungan seksual tersebut merupakan suatu ungkapan
dari bahasa cinta yang dapat dilakukan oleh suami istri dalam ikatan
perkawinan. Jadi bila dari sudut pandang moral dan agama, tentunya hubungan
seks pranikah mengarah kepada ungkapan nafsu seksual, yang dapat menodai
keluhuran cinta serta kesucian pernikahan, bahkan terbuka kemungkinan untuk
melahirkan anak di luar nikah (Dr. Yusni. I.S., dkk, 2001).
Banyak yang kurang menyadari bahwa hubungan seks pranikah
sebenarnya hanya didorong oleh kebutuhan dan kenikmatan fisik/biologi sesaat
saja, yang dapat menimbulkan rasa bersalah bila tidak dilanjutkan dengan
pernikahan. Hubungan seks pranikah belum tentu dilakukan oleh pasangan yang
saling mencintai. Selain melanggar norma, umumnya secara psikis berdampak
antara lain menimbulkan rasa bersalah, menyesal, kecewa, terutama dipihak
wanita.
Penilaian dari sudut etis maupun moral terhadap hubungan
seks pranikah menurut Departemen Kesehatan dan Departemen Sosial Republik
Indonesia, dapat memberikan dampak sebagai berikut : a). Aspek biologis, kemungkinan menjadi hamil di luar nikah
yang sering berakhir dengan aborsi; b). Aspek mental emosional, kemungkinan
timbul rasa bersalah, kecewa, menyesal bahkan hidupnya tidak tenang; c). Aspek
personal, kemungkinan merendahkan martabat manusia; d). Aspek sosial, penilaian
negatif dari masyarakat di sekitarnya.
Pengguguran kandungan
akibat kehamilan di luar nikah umumnya berdalih menutupi aib bagi diri dan
keluarga serta mengganggu kelanjutan pendidikan sekolahnya. Mereka
dapat mengalami konflik batin, merasa berdosa, depresi, takut bergaul, tidak
percaya pada laki-laki, takut menikah karena sudah kehilangan kegadisannya.
5. Perkosaan
dan Penganiayaan Seksual
Perkosaan merupakan suatu perbuatan senggama terhadap
korbamn yang tidak menghendaki secara paksa dan dengan kekerasan, juga senggama
melalui dubur dan oral dapat dilakukan dengan kekerasan dan dipaksakan sehingga
dapat disebut perkosaan juga. Klinisi
harus mempunyai mata jeli untuk mengenali perkosaan yang tidak dilaporkan,
karena kira-kira 50% perkoasaan tidak dilaporkan.
Keraguan atau kecemasan
pasien ketika pemeriksa mengadakan penjajakan riwayat seksualnya merupakan
suatu pertanda itu. Sebagian terbesar dari pemerkosa ialah laki-laki, dan
sebagian terbesar korban ialah perempuan. Namun demikian, perkosaaan
terhadap laki-laki juga terjadi, biasanya didalam suatu lembaga yang menyekap
pria seperti penjara.
Wanita antara umur 16-24 tahun merupakan masa beresiko
tinggi, tetapi korban perempuan ada yang berumur semua 15 bulan dan setua 82
tahun. Dari sejumlah pemerkosaan sepertiga perkosaan dilakukan oleh pemerkosaan
yang dikenal oleh korbannya, 7 % oleh anggota keluarga dekat. Seperlima dari
semua perkosaan dilakukan oleh lebih dari satu pemerkosa, disebut perkosaan
berkelompok (Harold I Kaplan, MD., Benjamin J. Saddocxk, MD., 1998).
Untuk wawancara dan psikoterapi korban perkosaan, bila
mungkin klinikus wanita yang harus mengevaluasi pasien, karena korban akan
merasa lebih mudah berbicara dengan seorang wanita dibandingkan dengan seorang
pria. Bila perkosaan dan penganiayaan belum diakui secara terbuka, klinikus
harus berhati-hati akan kenyataan bahwa banyak korban amat ragu untuk membicarakan
serangan itu dan menghindari atas masalah itu. Bila pasien nampak cemas saat
ditanya tentang riwayat hidup seksualnya dan menghindar membahasnya, jangan
lalu ikut dengan kemauan pasien untuk menghindari juga.
Korban perkosaan dan
penganiayaan seksual sering menjadi bingung sesaat setelah peristiwa itu. Harus
bersikap mengayomi dan suportif serta tidak menghamiki. Mendidik pasien tentang
adanya lembaga bantuan medik dan hukum serta pusat penanganan krisis perkosaan
yang memberi bantuan multidisipliner.
II. Tujuan
Pendidikan Seksual
Pendidikan seksual
pada remaja berarti mendidik remaja untuk memperoleh tingkah laku yang baik
dalam hal seksual sesuai dengan norma-norma agama, sosial, dan kesusilaan,
sehingga akhirnya dapat mencapai kebahagiaan dalam hidup (Haditono, S.R.,
1980).
Tujuan pendidikan seksual adalah memberikan
bimbingan serta mengasuh setiap laki-laki dan perempuan sejak dari anak-anak
sampai dewasa perihal pergaulan antar kelamin umumnya dan kehidupan seksual
khususnya agar mereka dapat melakukan sebagaimana mestinya, sehingga kehidupan
berkelamin itu mendatangkan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi umat manusia.
Dari berbagai pendapat yang telah dikemukaka,
terdapat persamaan mengenai pengertian dan tujuan dari pendidikan seksual,
yaitu bahwa pada dasarnya pendidikan seksual bertujuan untuk menciptakan
pribadi yang matang dan dewasa seksualitasnya, dan dapat mencapai kebahagiaan
bagi dirinya tanpa melupakan norma-norma sosial dan agama. Hal tersebut dicapai
dengan memberikan pengertian yang benar mengenai apa dan bagaimana hubungan
antar jenis kelamin dan hal-hal yang wajar dilakukan dalam usaha mencapai
kebahagiaan dalam kehidupan seksual, disamping itu juga diberikan
batasan-batasan yang diperbolehkan menurut norma-norma yang berlaku dalam
masyarakat.
Seks yang dididik akan menjadi kekuatan yang
memberikan manusia kesenangan, kebahagiaan, cinta kasih, dan mencegah
penyelewengan seksual seperti hubungan seksual sebelum nikah, hubungan seksual
di luar nikah, juga mencegah terjadinya kelainan seksual seperti
homoseksualitas, deviasi seksual dan lain sebagainya. (Sahly, S., 1975).
III. Manfaat Pendidikan Seksual
Manfaat
dari pendidikan seksual pada remaja antara lain :
A.
Remaja dalam pencarian identitas seksualnya,
diharapkan lebih terarah bukan hanya sekedar pelampiasan seksual atau menuruti
hawa nafsu belaka
B.
Diharapkan dapat mengurangi permasalahan
seksualitas pada remaja, yang antara lain masturbasi yang dilakukan oleh
kesenangan dan kenikmatan yang berlebih, homoseksualitas, prostitusi, sek pra
nikah maupun terjadinya perkosaan dan penganiayaan seksual
IV. Waktu Pelaksanaan dan Sasaran Pendidikan Seksual
Pendidikan seksual mulai
diajarkan kepada anak pada saat anak mulai membutuhkan. Petunjuk kalau anak mulai membutuhkan adalah kalau
anak bertanya mengenai seksual atau tingkah laku anak menunjukkan perubahan
menjadi pendiam, bermain ke rumah lawan jenisnnya, sebab hal ini dapat menjadi
indikator keremajaan seperti ejakulasi pada laki-laki atau menarche pada
wanita.
Sasaran pendidikan
seksual yang terpenting adalah anak-anak pada usia awal sekolah, dimana pada
usia itu mereka banyak sekali memiliki sifat ingin tahu, terutama hal-hal yang
berhubungan dengan seks, serta para remaja pada usia pubertas dimana mulai
tumbuh rasa tertarik pada lawan jenis. Oleh karena pendidikan seksual ini
bersifat “long life” maka bukan hanya pada anak-anak dan remaja saja, tetapi
juga pada orang-orang dewasa yang memerlukannya, seperti calon pengantin dan
para orang tua agar dapat membimbing anak-anaknya. Tentu saja informasi yang disampaikan
disesuaikan dengan pihak-pihak sasarannya (Prawirohardjo, S., 1972).
V. Materi
dan Metode Penyampaian Pendidikan Seksual
Golden J menganjurkan
agar pendidikan seksual tidak hanya mengajarkan tanda-tanda kematangan seksual
dan fungsi reproduksi manusia saja, tetapi juga mengajarkan bagaimana cara
hubungan seks yang wajar dan menyenangkan bagi kedua belah pihak, yang terutama
penting untuk persiapan sebelum menikah, agar perkawinan mereka tetap bahagia
(Hartati, H.S., 1990).
Gessel menganjurkan memberikan penerangan
seksual pada anak berusia kurang dari 12 tahun (3-12 tahun), sedangkan
pendidikan seksual diberikan pada anak berusia diatas 12 tahuin (saat remaja
dewasa). Penerangan seksual umumnya bersifat informal yang diberikan orang tua
pada anak dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam hal yang bersifat seksual
(Hartati, H,S., 1990). Dalam menjawab pertanyaan anak sebaiknya orang tua
menerangkan secara benar dan wajar dengan kata-kata sederhana sesuai dengan
daya tangkap anak, tanpa merasa tabu atau malu terhadap anak. Pendidikan
seksual adalah pendidikan formil yang diberikan seorang guru kepada
murid-muridnya yang berusia diatas 12 tahun secara bersama-sama.
Pada dasarnya materi yang dapat disampaikan
dalam pendidikan seks itu meliputi: a). anatomi dan fisiologi alat kelamin
laki-laki dan perempuan; b).perkembangan psikososial; c). hal-hal mengenai
menstruasi; d). mimpi basah; e). penyesuaian dengan jenis kelamin lain; f). masturbasi;
g). Persiapan perkawinan; h). bulan madu; i). sexual adjusment dalam perkawinan;
j). impotensi; k). berbagai materi tambahan (penyakit kelamin, deviasi seksual,
pornografi).
Materi tentang pendidikan seksual dan kehidupan keluarga
sesuai dengan kelompok umur (Schulz, E.D., William, S.R., 1969).
A. Kelompok anak umur 4-8 tahun (Kelas TK – 3 SD)
Biasanya pada umur ini
sumber keingintahuan dan tipologi pertanyaan menyangkut kelahiran, asal muasal
manusia, identitas seksual, peranannya dalam keluarga dan perasaan wanita/pria
dalam reproduksi. Bimbingan yang disarankan dalam masa ini adalah :
1. Pengenalan dan pengembangan lebih lanjut identitas
seksual
2. Pemahaman
tentang kasih sayang
3. Pengenalan tentang perbedaan antara laki-laki dan
perempuan
4. Pemahaman bahwa bayi manusia berkembang dalam tubuh ibu
5. Pengenalan
peran dalam keluarga
6. Pemahaman
bahwa laki-laki dan perempuan berperan dalam reproduksi
7. Pemahaman
tentang tingkah laku yang manis dan tidak mementingkan diri sendiri
8. Pemahaman
tentang pertumbuhan dan tanggung jawab
9. Pemahaman
tentang sikap-sikap pengendalian perasaan dan tingkah laku yang dapat diterima
orang lain
B. Kelompok umur 9 –
12 tahun (kelas 4-6 SD)
Materi pendidikan seksual yang disampaikan pada kelompok
ini adalah :
1. Pengembangan pemahaman dan apresiasi peran masing-masing
anggota keluarga sebagai individu dan sebagai kesatuan inti keluarga
2. Kelanjutan tumbuhnya pemahaman diri dalam tanggungjawab
pribadi
3. Pengembangan hubung interpersonal yang secara mutualistik
memuaskan semua pihak
4. Pemahaman usia pubertas, perubahan anatomis dan emosi
yang menyertainya
5. Pengembangan
cara-cara yang konstruktif dalam menangani emosi
C. Kelompok umur 13-15 tahun (kelas 1-3 SMP)
Pada usia ini
pertumbuhan terjadi sangat pesat. Perkembangan alat kelamin sekunder telah
dimulai. Pendidikan seksual dan pendidikan kehidupan keluarga yang perlu
disampaikan pada kelompok ini adalah :
1. Pengenalan diri sendiri, kepribadian dan pengembangan
pribadi diri
2. Pengembangan hubungan baik dengan teman dan nilai-nilai
persahabatan
3. Pengenalan
tentang pertumbuhan, perubahan fisik, pubertas, kematangan organ reproduksi dan proses reproduksi
manusia.
4. Pemecahan
masalah, konflik dalam keluarga, teman, lingkungan dan problem dorongan seksual
D. Kelompok
umu 16-20 tahun
Pendidikan
seksual dan pendidikan kehidupan keluarga yang perlu disampaikan pada kelompok
ini adalah :
1. Tanggungjawab
pada diri sendiri, agama, keluarga, dan masyarakat
2. Pertumbuhan-perkembangan,
pubertas, reproduksi anatomi-fisiologi, alat-alat reproduksi
3. Pemecahan
masalah atau diskusi masalah seksual : masturbasi, mimpi basah, menstruasi,
penyakit hubungan seksual, deviasi seksual
E. Kelompok
umur 20 tahun keatas
Pendidikan seksual dan pendidikan kehidupan berkeluarga
yang perlu disampaikan pada kelompok ini adalah :
1. Persiapan
dan pembinaan kehidupan berkeluarga
2. Pemecahaan
masalah : kencan/dating, pacaran, pernikahan, perencanaan pembentukan keluarga,
konsepsi, kontrasepsi, penyakit kelamin
VI. Pihak
yang Berwenang dalam Memberikan Pendidikan Seksual
Pendidikan seksual merupakan tanggung jawab
orang tua kepada anaknya, karena pendidikan seksual sudah dimulai sejak dini.
Pada masa sekolah, guru dapat memberikan sumbangan dalam pendidikan seksual,
terutama dalam menempatkan norma-norma sosial, susila dan agama. Dengan
demikian ada dua saluran dalam menyampaikan pendidikan seksual, yaitu saluran
formal (mulai sekolah), dan saluran informal (melalui program pembinaan
kehidupan keluarga bagi orang tua dan penyiapan publikasi materi pendidikan
seksual yang dapat dipertanggungjawabkan, yang disusun oleh para ahli dalam hal
ini dokter/psikiater, psikolog, ahli agama, dan lain-lain.
Jalur pendidikan seksual dapat digambarkan
sebagai berikut:
![]() |
VII.
Dampak
Pendidikan Seksual pada Perkembangan Jiwa Remaja
Dalam
mencari identitas diri, remaja selalu mengadakan eksperimentasi dengan berbagai
peran yang ada disekitarnya, dan yang belum pernah diketahuinya. Berbeda
dengan eksperimentasi pada fase-fase sebelumnya pada masa ini remaja cenderung
tertarik pada hal-hal yang bersifat ekstrim, oposisional yang pada umumnya
sering dicela dan ditentang oleh orang tua. Remaja dalam mencari identitas
seksual dapat mempunyai keinginan untuk merasakan dan mengalami kesenangan dan
kemantapan diri dalam berhubungan dengan lawan jenis. Hal ini sering
menyebabkan timbulnya nafsu atau keinginan untuk melakukan tindakan ekstrim
sebagai pembuktian bahwa dirinya benar-benar laki-laki atau perempuan (Monks,
F.J., 1982). Mereka akan mencoba melakukan hubungan seksual dengan tujuan
sekedar ingin diakui oleh kelompoknya bahwa teryata mereka memang berani
melakukan hal tersebut dan benar-benar sudah memiliki gengsi dan identitas.
Bahkan ada remaja yang mencoba pergi ke
tempat pelacuran dan akhirnya justru terkena penyakit kelamin. Dengan
makin bertambahnya tempat lokalisasi, hotel, losmen, tempat wisata dengan daya
tariknya serta adanya kebebasan yang tidak dapat dikendalikan maka makin banyak
remaja yang menggunakan tempat tersebut untuk pencarian identitas dirinya. Hal
ini tentunya tidak lepas dari kurangnya perhatian orang tua terhadap
anak-anaknya yang beranjak dewasa. Sering juga terjadi pembuktian identitas
seksual remaja dilakukan terhadap sesama remaja sendiri, tanpa menyadari akibat
yang terjadi dikemudian hari. Disinilah peran pendidikan seksual dibutuhkan
untuk menghindari segi negatif perkembangan seksual tersebut, seperti kehamilan
pada masa remaja, abortus kriminalis, penyakit kelamin dan deviasi seksual.
Materi yang diberikan dalam pendidikan
seksual terhadap para remaja disesuaikan dengan usia mereka, juga
intelektualitas dan perkembangan jiwanya. Sesuai dengan tujuan
pendidikan seksual yaitu mencapai pribadi yang matang secara seksual. Dalam
keluarga hendaknya anak mendapat bimbingan dan jawaban yang benar tentang seks
yang disertai rasa kasihnya sayangnya sehingga anak dapat memahami dengan lebih
baik dan mencegah timbulnya kegoncangan emosional akibat hal-hal yang baru
didapatkannya.
Efek
samping pembicaraan tentang masalah seksual secara terbuka dan gamblang dapat
menimbulkan perasaan kurang dihargai sebagai suatu yang bersifat sangat
pribadi, segi moralitas tentang seks juga kurang mendapat perhatian serius dari
sudut falsafal/pengertian.
Dalam
pendidikan seksual di Amerika Serikat, masalah nilai kurang mendapat perhatian
karena segalanya dilakukan dengan sangat terbuka, rasional dan ilmiah. Sehingga
free sex bukan lagi menjadi persoalan. Nilai-nilai yang dikesampingkan tersebut
merupakan efek samping dari rasionalisme dan sikap ilmiah dalam pendidikan
seksual yang berlaku pada norma/aturan yang ada di masyarakta. Karena di negara
kita masih sangat terikat dengan religius dan adat istiadat, maka pendidikan
seksual harus mempertimbangkan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.
VIII.
Pengaruh Negatif Pendidikan Seksual
Dampak negatif akan terjadi apabila
unsur-unsur pendidikan seksual tidak dapat terpenuhi, seperti tenaga pendidik
yang tidak tepat, waktu pemberian materi yang tidak tepat sesuai dengan tingkat
umur. Adapun dampak negatif yang mungkin timbul adalah :
1. Kesalahpahaman
tentang pengertian seks itu sendiri sehingga anak menganggap seks adalah hal
yang tabu, menjijikkan dan memalukan.
2. Pembicaraan
tentang seks tanpa disertai nilai-nilai moral akan mengakibatkan anak
menganggapnya sebagai hal yang alamiah dan dimanfaatkan tanpa memandang segi
baik buruk dan benar salahnya
IX.
Peran
Keluarga dan Sekolah dalam Pendidikan Seksual
Penerangan mengenai masalah-masalah seks ini sebaiknya
telah diberikan sebelum anak menginjak remaja. Untuk itu pendidikan seks paling
baik diberikan oleh orang tua dan lingkungan dalam keluarga.
Orang tua dapat
memberikan pendidikan seks kepada anaknya secara bertahap sambil mengawasi
perkembangannya, sehingga pendidikan yang diberikan dapat sesuai dengan
kebutuhannya. Namun demikian masih banyak orang tua yang merasa tabu
membicarakan seks dengan anaknya karena dianggap belum pantas mengetahuinya.
Sejak kecil anak diberi pengertian yang benar mengenai
jenis kelaminnya untuk berperilaku sesuai dengan jenis kelaminnya tersebut.
Orang tua harus dapat memberikan penjelasan yang baik mengapa ayah berbeda
dengan ibu, kakak laki-laki berbeda dengan kakak perempuan, dan hal-hal sepele
lainnya yang sebelumnya merupakan dasar-dasar pendidikan seks yang akan
tertanam pada benak anak dan mendasari pengertiannya mengenai masalah-masalah
seks di waktu mendatang. (Prawirohardjo, S., 1992).
Anak harus dipersiapkan untuk menghadapi masa
remajanya agar mereka dapat menerima perubahan dalam dirinya secara wajar dan
tanpa menimbulkan kegoncangan. Mereka juga harus diberi pengertian mengenai
hubungan antara dua orang yang berlainan jenis kelamin, baik dari segi norma
susila, agama dan sosial. Juga mengenai batas dan akibat yang ditimbulkan bila
pergaulan antar jenis kelamin berbeda tersebut melampaui batas. Hal tersebut
harus diberikan orang tua dengan sikap membimbing dan bukannya menggurui agar
remaja benar-benar dapat mengerti dan menyadarinya (Prawirohardjo, S., 1972).
Agar dapat melakukan
perannya orang tua harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang masalah seks
yang dibutuhkan anak-anaknya dan cara-cara mendidik anak mengenai masalah seks.
Hal ini dapat dipenuhi dengan membaca buku tentang pendidikan seks dan jika
perlu dapat berkonsultasi dengan dokter, psikolog, psikiater, atau ahli agama.
Pada masa
sekolah, guru dapat memberikan sumbangan dalam pendidikan seksual, terutama
dalam menempatkan norma-norma sosial, susila dan agama. Konseling di sekolah
yang diberiken oleh guru BP menempati posisi yang strategis dalam upaya
pembinaan remaja, baik untuk tujuan preventif, kuratif, maupun rehabilitatif.
Kegiatan ini sangat bermakna untuk dapat membantu remaja yang bermasalah.
X.
Peran Medik Dalam Pendidikan Seksual
Sebelum menentukan penatalaksanaan perlu
dilakukan penilaian cermat perihal faktor yang melatarbelakangi terjadinya
kenakalan remaja (aspek biopsikososial) dan beratnya stresor yang dihadapi
remaja. Penatalaksanaan tidak mudah karena sangat kompleks.
Kunjungan tenaga kesehatan di Puskesmas,
kunjungan dari rumah, kunjungan ke tempat kerja maupun penyuluhan yang
tergabung dalam layanan masyarakat diperlukan untuk membantu mengatasi remaja
bermasalah. Tenaga penyuluh kesehatan untuk remaja tentunya harus memiliki
pengetahuan dan wawasan yang luas mengenai tahapan perkembangan fisik, mental,
sosial, spiritual di masa remaja. Corak kehidupan remaja, pemikiran tentang
diri dan lingkungannya, gaya
hidup yang dianut, dan pandangan remaja perlu dipahami dengan baik oleh
penyuluh kesehatan. Kegelisahan yang dialami remaja sehubungan dengan kebutuhan
memiliki identitas diri sangat perlu dipahami oleh tenaga kesehatan yang
memberikan penyuluhan dalam konteks kehidupan remaja sesuai dengan kondisi dan
situasi yang ada (Dr. Yusni LS., dkk, 2001)
Program penyuluhan dengan cara kunjungan
oleh tenaga kesehatan bagi kalangan remaja, orang tua, keluarga dan masyarakat
penting, agar mereka menyadari bahwa remaja dalam perkembangannya membutuhkan
dukungan. Orang tua dapat berfungsi sebagai penyangga disaat remaja mengalami
krisis, baik dari dalam dirinya, ataupun karena faktor luar. Salah satu cara
adalah penekanan tentang pentingnya komunikasi dua arah yang “terbuka” dan
mengubah interaksi sehingga keluarga dapat menyelesaikan masalah dengan cara
yang lebih sehat. Penyuluhan bagi remaja oleh tenaga kesehatan diperlukan agar
mereka mampu mengembangkan identitas diri dan menyesuaikan dengan lingkungan
secara sehat.
Anjuran remaja untuk melakukan aktivitas
secara positif agar tidak terlalu banyak waktu untuk berfantasi, misalnya
dengan mengikuti kegiatan olahraga, kepramukaan, atau aktivitas lain yang
produktif dan menghindari pornografi.
Memberikan
penjelasan yang tepat, bahwa hubungan seks pranikah sebaiknya dihindari karena
banyak resiko. Pasangan yang sepakat untuk menikah,
sebaiknya saling mengingatkan dan mampu mengendalikan diri, jangan sampai
terjebak oleh pengaruh hawa nafsu. Menanamkan motivasi yang kuat dalam hati
sanubari, bahwa pelaksanaan pernikahan yang suci dan luhur itu perlu
diperhatikan. Apabila sudah terjadi seks pranikah dan hamil diluar nikah,
jangan terlalu cepat memberikan penilaian yang negatif. Pelajari secara cermat
situasi dan hubungan pasangan tersebut. Mereka yang mengalami aborsi perlu
mendapatkan layanan konseling untuk mengatasi masalah mental dan emosional yang
menyertai dan mencegah aborsi ulang.
BAB
III
PENUTUP
- Kesimpulan
1. Memberikan informasi mengenai pentingnya pendidikan
seksual dini
dapat
menanggulangi masalah seksualitas di kalangan remaja.
2. Pendidikan
seksual merupakan tanggung jawab orang tua kepada anaknya, karena pendidikan
seksual sudah dimulai sejak dini.
3. Pada masa sekolah, guru dapat memberikan sumbangan dalam
pendidikan seksual, terutama dalam menempatkan norma-norma sosial, susila dan
agama.
- Saran
1. Terhadap
masalah seks harus dilakukan pendekatan holistic, karena seks juga mengandung
aspek-aspek bio-psiko-sosial. Menitikberatkan hanya pada salah satu aspek saja
akan mengakibatkan gangguan keseimbangan pada individu atau pada masyarakat.
2. Pendidikan
seksual sebaiknya diberikan secara informal oleh orang tua sejak anak berusia
dini, kemudian oleh pendidik pada usia sekolah. Dokter, psikiater, psikolog,
sosiolog, dan ulama juga berperan dalam penyampaian materi yang dapat dipertanggungjawabkan.
3. Untuk dapat memberikan pendidikan seksual, orang tua
diharapkan mempunyai pengetahuan yang memadai agar tidak timbul kesalahan dalam
penentuan waktu maupun materi. Dalam hal ini orang tua dapat berkonsultasi
dengan tenaga kesehatan dan ahli agama bidang seksual.
4.
Tenaga penyuluh dari pihak medis diharapkan untuk: a). lebih
memperbanyak
kunjungan-kunjungan guna memberikan penyuluhan bagi remaja; b). untuk lebih
mencapai tujuan yang diinginkan dari pendidikan seksual pada remaja, sebaiknya
kunjungan penyuluhan dilaksanakan di sekolah-sekolah yang tentunya terlebih
dahulu bekerjasama dengan pihak terkait; c). dalam penyampaian penyuluhan
hendaknya materi tidak dalam bentuk ceramah saja, tetapi juga dalam bentuk dialog
antara pemberi dan penerima penyuluhan; d). hendaknya materi yang diberikan
disesuaikan dengan situasi dan keadaan remaja saat ini, terlebih di era
globalisasi yang serba canggih.
DAFTAR PUSTAKA
Abrar, A.N., 1985, Komunikasi
Seksual Keluarga, Seminar Ilmiah Seksualitas Antar Disiplin Ilmu, Fakultas
Kedokteran, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta .
Haditono, S.R., 1984,
Psikologi Perkembangan, Gadjah Mada University
Press Yogyakarta .
Harold, D. Kaplan;
Benjamin J Sadock, 1998, Ilmu KedokteranJiwa Darurat, Widya Medika, Jakarta .
Hartati, H.S., 1990, Pengaruh
Perkembangan Psikososial Masa Anak Pada Libido Remaja atau Orang Dewasa, Majalah
Psikiatri Nomor 3, Yayasan Kesehatan Jiwa Dharmabangsa, Jakarta .
Maramis, 1998, Catatan
Ilmu Kedokteran Jiwa, Airlangga University Press, Surabaya .
Mardjikoen, P., 1988,
Seksualitas Remaja dan Permasalahnnya, Temu Wira Muda, 88, Kasmatum
Gama, 14 Agustus di Gedung Sasana Bhumi Kyai Sepanjang Magelang.
Monks, F.J., 1982, Psikologi Perkembangan, Pengantar dalam Berbagai
Bagiannya, Edisi I, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Prawirohardjo, S., 1972, Sez Education dalam Profil Syaraf Jiwa, No.
1/Th III, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Sahly, S., 1975, Sex Education, Yayasan Arafah Abadi dan Yayasan
Keluarga Sejahtera, Edisi Pertama, Semarang.
Schulz, E.D;
Williams, S.R., 1969, Family Life and Sex Education Curriculum and
Instruction, Harcourt, Brace & World Inc., New York .
Yusni, I.S., dkk,
2001. Pedoman Kesehatan Jiwa Remaja (Pegangan Bagi Dokter Puskesmas),
Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI , Jakarta .

No comments:
Post a Comment